MATERI Sy. LULU ASSAGAF

To Speak Without Thinking Is To Shoot Without Aun

DISLEKSIA (DYSLEXIA)

Disleksia atau kesulitan membaca adalah kesulitan untuk memaknai simbol, huruf, dan angka melalui persepsi visual dan auditoris. Hal ini akan berdampak pada kemampuan membaca pemahaman (Pusat kurikulum Badan penelitian dan pengembangan Departemen pendidikan nasional, 2007).
Disleksia adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis. Perkataan disleksia berasal dari bahasa Yunani “dys” adalah “kesulitan untuk” dan lexis adalah “huruf” atau “leksikal” (http://id.wikipedia.org/wiki/Disleksia).

Disleksia adalah kesulitan patologis dalam membaca, yang bukan diakibatkan oleh defisit visual, motorik, atau intelektual secara umum. Ada dua tipe disleksia yang berbeda secara fundamental: developmental dyslexia (disleksia perkembangan), disleksia yang menjadi kasat mata ketika anak belajar membaca, dan acquired dyslexia (disleksia yang didapat), disleksia yang disebabkan oleh kerusakan otak pada individu-individu yang sudah bisa membaca. Disleksia perkembangan adalah masalah yang meluas. Estimasi seluruh insiden disleksia perkembangan dikalangan anak-anak berbahasa inggris berkisar antara 5,3% sampai 11,8% bergantung kriteria yang diterapkan untuk mengidentifikasi disleksia, tetapi insidennya dua sampai tiga kali lebih tinggi di kalangan anak laki-laki daripada di kalangan anak perempuan (Katusic, et al dalam Pinel, 2009). Sebaliknya, disleksia yang didapat relatif jarang.

Disleksia merujuk pada anak yang tidak dapat membaca sekalipun penglihatan, pendengaran, inteligensinya normal, dan ketrampilan usia bahasanya sesuai. Kesulitan belajar tersebut akibat faktor neurologis dan tidak dapat diatributkan pada faktor kedua, misalnya lingkungan atau sebab sebab sosial (Corsini dalam Imandala, 2009).

Disleksia sebagai kesulitan membaca berat pada anak yang berinteligensi normal dan bermotivasi cukup, berlatar belakang budaya yang memadai dan berkesempatan memperoleh pendidikan serta tidak bermasalah emosional (Guszak dalam Imandala, 2009).

Disleksia adalah suatu bentuk kesulitan dalam mempelajari komponen­-komponen kata dan kalimat, yang secara historis menunjukan perkembangan bahasa lambat dan hampir selalu bermasalah dalam menulis dan mengeja serta berkesulitan dalam mempelajari sistem representasional misalnya berkenaan dengan waktu, arah, dan masa. (Bryan & Bryan dalam Imandala, 2009).

Disleksia adalah bentuk kesulitan belaiar membaca dan menulis terutama belajar mengeja secara betul dan mengungkapkan pikiran secara tertulis dan ia telah pernah memanfaatkan sekolah normal serta tidak memperlihatkan keterbelakangan dalam mata pelajaran-mata pelajaran lainnya (Hornsby dalam Imandala, 2009).

Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa disleksia adalah kesulitan membaca di mana penderitanya kesulitan untuk mempelajari komponen-komponen kata padahal secara inteligensi dan keterampilan memiliki kapasitas yang sesuai untuk membaca yang mana penyebab dari gangguan ini bisa berasal dari faktor neurologis maupun faktor lingkungan.

Endang dan Ghozali (1984) mengkategorikan kesukaran membaca (disleksia) dibagi 2 macam :

  1. 1. Disleksia primer

Ciri-ciri: Ada kesukaran membaca terutama dalam mengintegrasi simbol-simbol huruf atau kata-kata, disebabkan kelainan biologis dan tidak didapatkan kelainan saraf yang nyata.

  1. 2. Disleksia Sekunder
    1. Kemampuan membaca terganggu karena dipengaruhi oleh kecemasan, depresi, menolak membaca, kurang motivasi belajar, gangguan penyesuaian diri atau gangguan kepribadian.
    2. Sebenarnya dasar teknik kemampuan membaca masih baik (intak), tetapi kemampuan membaca tersebut digunakan secara kurang efektif karena dipengaruhi faktor emosi.
    3. Kadang-kadang anak dibawa ke dokter bukan karena keluhan tak dapat membaca tetapi karena keluhan:
      1. Penyesuaian diri yang buruk
      2. Kenakalan
      3. Tidak mau pergi ke sekolah
      4. Neurosa N
      5. Gangguan psikosomatik, dan sebagainya.

Dalam Model Kurikulum Bagi Peserta Didik Yang Mengalami Kesulitan Belajar Pusat Kurikulum Badan Penelitian Dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional (2007). Adapun bentuk-bentuk kesulitan membaca (disleksia) di antaranya berupa:

  1. Penambahan (Addition)

Menambahkan huruf pada suku kata

Contoh : suruh à disuruh; gula à gulka; buku à bukuku

  1. Penghilangan (Omission)

Menghilangkan huruf pada suku kata

Contoh : kelapa à lapa; kompor à kopor; kelas à kela

  1. Pembalikan kiri-kanan (Inversion)

Membalikkan bentuk huruf, kata, ataupun angka dengan arah terbalik kirikanan.

Contoh : buku à duku; palu à lupa; 3 à ε; 4 à μ

  1. Pembalikan atas-bawah (ReversalI)

Membalikkan bentuk huruf, kata, ataupun angka dengan arah terbalik atasbawah.

Contoh : m à w; uà n; nana à uaua; mama à wawa; 2 à 5; 6 à 9

  1. Penggantian (Substitusi)

Mengganti huruf atau angka.

Contoh : mega à meja; nanas à mamas; 3 à 8

  1. A. Sebab-sebab

Meski belum ada yang dapat memastikan penyebab disleksia ini, namun ada beberapa faktor penyebab disleksia itu sendiri, yaitu;

  1. Faktor keturunan dan biologis

Disleksia cenderung terdapat pada keluarga yang mempunyai anggota kidal. Orang tua yang disleksia tidak secara otomatis menurunkan gangguan ini kepada anak-anaknya, atau anak kidal pasti disleksia. Penelitian Bradford (1999) di Amerika menemukan indikasi, bahwa 80 persen dari seluruh subjek yang diteliti oleh lembaganya mempunyai sejarah atau latar belakang anggota keluarga yang mengalami learning disabilities, dan 60% di antaranya punya anggota keluarga yang kidal (http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05228-02.htm).

Shaywitz dan Mody (2006), mengemukakan bahwa adanya gangguan pada belahan orak kiri system saraf posterior pada anak dan remaja penderita disleksia saat mereka mencoba membaca.

Disleksia lebih besar kemungkinan ditemui pada kembar identik daripada kembar fraternal, sekitar 70% vs. 40% (Plomin dkk, 1994) dan mereka yang memiliki orang tua disleksia akan beresiko lebih besar untuk memiliki gangguan tersebut (Volger, DeFris, dan Decker, 1985 dalam Pinel 2009).

  1. Problem pendengaran sejak usia dini

Apabila dalam 5 tahun pertama, seorang anak sering mengalami flu dan infeksi tenggorokan, maka kondisi ini dapat mempengaruhi pendengaran dan perkembangannya dari waktu ke waktu hingga dapat menyebabkan cacat. Kondisi ini hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan intensif dan detail dari dokter ahli.

Jika kesulitan pendengaran terjadi sejak dini dan tidak terdeteksi, maka otak yang sedang berkembang akan sulit menghubungkan bunyi atau suara yang didengarnya dengan huruf atau kata yang dilihatnya. Padahal, perkembangan kemampuan ini sangat penting bagi perkembangan kemampuan bahasa yang akhirnya dapat menyebabkan kesulitan jangka panjang, terutama jika disleksia ini tidak segera ditindaklanjuti. Konsultasi dan penanganan dari dokter ahli amatlah diperlukan (http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05228-02.htm).

  1. Faktor kombinasi

Ada pula kasus disleksia yang disebabkan kombinasi dari 2 faktor di atas, yaitu problem pendengaran sejak kecil dan faktor keturunan. Faktor kombinasi ini menyebabkan kondisi anak dengan gangguan disleksia menjadi kian serius atau parah, hingga perlu penanganan menyeluruh dan kontinyu. Bisa jadi, prosesnya berlangsung sampai anak tersebut dewasa.

Dengan perkembangan teknologi CT Scan, bisa dilihat bahwa perkembangan sel-sel otak penderita disleksia berbeda dari mereka yang nondisleksia. Perbedaan ini mempengaruhi perkembangan fungsi-fungsi tertentu pada otak mereka, terutama otak bagian kiri depan yang berhubungan dengan kemampuan membaca dan menulis.

Selain itu, terjadi perkembangan yang tidak proporsional pada sistem magno-cellular di otak penderita disleksia. Sistem ini berhubungan dengan kemampuan melihat benda bergerak. Akibatnya, objek yang mereka lihat tampak berukuran lebih kecil. Kondisi ini menyebabkan proses membaca jadi lebih sulit karena saat itu otak harus mengenali secara cepat huruf-huruf dan sejumlah kata berbeda yang terlihat secara bersamaan oleh mata (http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05228-02.htm).

  1. Faktor budaya

Paule (dalam Pinel, 2009) berasumsi bahwa disleksia perkembangan tidak mungkin merupakan sebuah gangguan otak karena dipengaruhi oleh budaya dan berdasarkan temuan mereka bahwa sejumlah penutur bahasa inggris yang di diagnosis disleksia sekitar dua kali lebih banyak dibanding penutur bahasa italia.

  1. B. Perspektif aliran-aliran

Pendekatan Humanistik

Dalam Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar (2007),pendekatan humanistik merupakan pandangan yang berusaha memahami manusia sebagai makhluk yang bermartabat. Beberapa hal yang patut menjadi perhatian dalam pendekatan humanistik adalah:

• Kebutuhan individu

• Potensi diri

• Pengembangan harga diri

Setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Ragam kebutuhan ini perlu diperhatikan, agar potensi individu dapat berkembang secara optimal. Menurut Maslow, kebutuhan dasar meliputi kebutuhan fisik, rasa aman, harga diri, kebutuhan akan cinta kasih, dan kebutuhan akan aktualisasi diri, karena keunikannya, seorang individu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan individu lain dan kondisi ini perlu diidentifikasi. Selain memperhatikan kebutuhan individual, potensi setiap individu perlu digali. Dengan memahami kelebihan dan kekurangan setiap individu, pengarahan diri dapat dikembangkan. Dalam hal ini, aspek-aspek positif dari individu lebih ditekankan, sehingga harga dirinya dapat ditngkatkan. Dengan harga diri yang tinggi, diharapkan nantinya individu lebih memiliki kesediaan belajar dan mengembangkan diri.

Tujuan dari pendekatan humanistik pada dasarnya untuk mengembangkan potensi dan aktualisasi seluruh kemampuan individu. Dalam pembelajaran, perlu dikembangkan sikap empatik agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara optimal. Dengan demikian, individu dapat belajar dengan rasa aman, nyaman, dalam situasi pembelajaran yang menyenangkan.

  1. C. Gejala

Kriteria diagnostik gangguan membaca (disleksia) berdasarkan DSM IV-TR :

  1. Pencapaian membaca, seperti yang diukur dengan standar tentang akurasi dan pemahaman membaca yang diberikan secara individual, adalah secara substansial di bawah dari yang diharapkan menurut umur kronologis, inteligensi yang diukur dan pendidikan yang sesuai dengan umur orang tersebut.
  2. Gangguan pada kriteria A secara bermakna mengganggu pencapaian akademik atau aktivitas kehidupan sehari-hari yang membutuhkan keterampilan membaca.
  3. Apabila terdapat deficit sensoris, kesulitan membaca adalah secara jelas melebihi dari yang biasanya berhubungan dengannya.

Gejala-gejala, dilihat dari 2 karakteristik disleksia yang dikemukakan oleh Endang dan Ghozali (1984) :

  1. Disleksia Primer

Disebabkan oleh kelainan biologis dan tidak didapatkan kelainan saraf yang nyata. Gejala-gejalanya :

  1. Sukar berpikir abstrak,
  2. Sukar membuat konsep berpikir, untuk ukuran panjang, jumlah dan waktu,

Contoh kalimat:

1)      Rata-rata tinggi orang wanita Amerika 2 meter

2)      Hari natal pada bulan Juli

3)      Musim hujan pada bulan Mei

4)      Penduduk Indonesia: 10 juta.

  1. Sukar membedakan skema atau anggota badan sebelah kanan atau kiri.
  2. Dapat mengulang Alfabet tetapi tak dapat merangkai suku kata untuk membuat kata atau kalimat.
  3. Dapat menyebutkan atau membunyikan beberapa kata tetapi tidak dapat mengerti artinya atau menggambarkan maknanya.
  4. Kecakapan berhitung atau matematika jauh lebih baik dari-pada membaca.
  5. Kemampuan ketrampilan motorik lebih baik daripada kemampuan verbal.
  6. Sukar membedakan huruf: d, b, p
  7. Membaca kata: dor, dir sama saja tanpa berbeda.
  8. Menyusun kata terbalik-balik (reversal) atau susunan kata tak teratur.

Contoh   :  Mandià Madin atau Mnadi

­                              Negroà Nergo atau Nrego

Pada disleksia primer dengan gejala sukar membaca, dikte dan merangkai suku kata, meskipun kemampuan berhitungnya baik tetapi lama-lama kemampuan berhitung pun terganggu karena soal berhitung juga memakai kalimat. Anak ini sukar membaca kata-kata dalam kalimat, juga sukar mengartikan kalimat sehingga timbul kesukaran belajar.

  1. Disleksia Sekunder

Disebabkan oleh kemampuan membaca yang terganggu karena dipengaruhi oleh kecemasan, depresi, menolak membaca, kurang motivasi belajar, gangguan penyesuaian diri atau gangguan kepribadian. Gejala-gejala :

a.   Pada saat membaca kadang-kadang penderita dapat membaca dengan baik, kemudian berhenti, lalu membaca banyak salah.

b.   Membaca lalu berhenti, atau banyak salah biasanya karena isi bacaan mirip dengan konfliknya/ketegangannya atau anak teringat akan konfliknya/ketegangannya.

E.  Onset

Disleksia  biasanya tampak pada usia 7 tahun, bersamaan dengan kelas 2 SD, walaupun kadang-kadang sudah dikenali pada usia 6 tahun. Anak-anak dan remaja dengan disleksia cenderung lebih rentan terhadap depresi, memiliki self-worth yang rendah, merasa tidak kompeten secara akademik, dan menunjukkan tanda-tanda ADHD  (BNoetsch, Green, dan Penningtin, dalam Pinel, 2009).

F.   Prevalensi

Lebih banyak anak laki-laki yang memperoleh diagnosis gangguan membaca daripada anak perempuan, tetapi perbedaan ini mungkin lebih disebabkan oleh adanya bias dalam mengidentifikasi gangguan terhadap anak laki-laki daripada oleh perbedaan gender dalam jumlah gangguan ini (APA dalam Nevid, 2005). Anak laki-laki dengan disleksia cenderung lebih besar kemungkinannya untuk menjalani evaluasi. Penelitian yang dilakukan secara cermat menemukan jumlah yang setara dari gangguan ini baik pada anak laki-laki maupun perempuan (APA;Shaywitz dalam Nevid, 2005). Endang dan Ghozali (1984) menyatakan bahwa 10% dari anak dengan inteligensi normal menderita disleksia primer. Perbandingan anak laki-laki : anak perempuan = 5 : 1.

G.  Terapi

Anak dengan disleksia primer perlu bimbingan khusus untuk diajar membaca. Untuk itu anak perlu ditempatkan pada Remedial Teaching yang akan mengajar anak dalam 3 hal, yaitu:

  1. Menggunakan ketajaman penyerapan panca indera, terutama ketajaman penglihatan, perabaan, skema badan.

1)      Penglihatan,

  1. Disuruh meniru bentuk-bentuk geometrik, bila bentuk geometrik yang ditiru sudah benar, anak disuruh menggambarkan masing-masing bentuk geometrik tersebut tanpa contoh. Misalnya: Coba gambar bentuk segitiga, bulatan, persegi panjang, bujur sangkar dan sebagainya.

  1. Ditanya beda bentuk yang satu dengan yang lain (visual figure-back ground perception). Diminta untuk meniru garis-garis yang menghubungkan titik-titik (spatial relationship).
  2. Ditanyakan pada anak (position in space).

Posisi yang terbalik pada urutan kursi.

gambar bulatan mana dari urutan bulatan y yang sama dengan bulatan x

Position in space dipakai pada anak yang sukar membedakan huruf: b, d, p (reversals).

2)      Pendengaran,

  1. Anak disuruh menirukan nada tinggi dan nada rendah

do   do,   do/00‘    re    7      mi

  1. Anak disuruh menirukan kata-kata:

bar-dar, dor-tor, stop-top taman-tamat, parit-parut muda-mudi, bolak-balik

  1. Dilatih diskriminasi irama dalam nyanyian, sajak-sajak, perabaan. Diminta untuk meraba benda:
    1. Bundar: bola
    2. Kotak persegi panjang
    3. Kubus:
    4. Tabung bulat uan sebagainya.
    5. Ditanya apakah bentuk benda ini, sesudah benda tersebut diraba
    6. Bundar, tabung, kubus, kotak dan sebagainya.

3)      Skema badan, posisi anggota badan:

  1. Ditanya mana: telinga kiri, tangan kanan, mata kiri, telinga kanan.
  2. Coba ditarik : tungkai ke muka, tungkai ke belakang, lengan ke samping kanan/kiri, lengan ke atas, lengan ke bawah dan sebagainya.
  3. Dihitung semua jumlah jari jari, yang mana ibu jari, jari manis, jari kelingkung, jari telunjuk, jari tengah.
  4. Mengembangkan integrasi dua atau tiga macam penyerapan : penglihatan, perabaan, dan pendengaran.

Contoh: lonceng berlagu — bentuk bulat.

Ditanya : benda apa ini? — coba raba.

Bentuknya bagaimana? — coba tirukan lagu benda ini!

  1. Mengembangkan kemampuan bahasa: bahasa reseptif, dan bahasa ekspresif.

Latihan:

  1. Bahasa reseptif: mengerti isi kalimat atau isi cerita.
  2. Bahasa ekspresif: menceritakan kembali isi cerita, mengutarakan maksud hati atau isi pikirannya.

Untuk disleksia sekunder karena dasar kemampuan membaca sebenarnya baik, pengobatan terutama ditujukan untuk menghilangkan gangguan emosi atau tingkah lakunya, yang biasanya dapat ditangani oleh seorang psikolog atau psikiater. Latihan membaca atau menulis dapat dilakukan di tempat Remedial Teaching. Kemajuan biasanya cepat karena dasar kemampuan membacanya memang masih baik.

H.  Prevensi

Deteksi dini dengan memberikan tes Comprehensive Test Of Phonological (CTOPP). Tes ini mencakup kepekaan fonologik, analisa fonologik dan menghapal. Tes ini telah distandarisasi di Amerika Serikat untuk anak usia 5 tahun sampai dewasa.

I.    Kualitas Hidup

Louis Barnett, Penderita Disleksia dan Dispraksia yang Sukses Jadi Pengusaha Cokelat terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena menderita disleksia dan dispraksia.Namun,siapa sangka,tanpa bekal pendidikan formal dan otak yang normal,remaja yang kini berusia 18 tahun itu sukses berbisnis cokelat di Inggris.

Kesuksesan Barnett tidak diraih dengan gampang.Sebagai manusia yang tidak bisa hidup normal, remaja asal Kinver,Staffordshire, Inggris ini harus berjuang keras untuk meraih kesuksesan yang saat ini dinikmatinya. Saat bersekolah, Barnett sebenarnya terbilang sangat luar biasa dalam soal urusan kosakata dan pengetahuan umum.Namun, dia memiliki masalah besar dengan konsentrasi sehingga tidak bisa belajar matematika, menulis, dan sering sekali tak mengacuhkan temannya karena kurang pemahaman dari teman-temannya itulah Barnett sering terlibat dalam perkelahian dan menjadi korban kekerasan serta pelecehan teman-temannya.Orang tua Barnett, Phil dan Mary, kemudian memutuskan untuk mengambil alih pendidikan Barnett secara pribadi karena mereka terus mendapat keluhan dari sekolah dan orang tua murid. Mereka memilih untuk menyekolahkan Barnett lewat home school dengan memanggil guru privat bernama Jan.

Phil dan Mary juga memeriksakan kelainan konsentrasi Barnett kepada psikolog. Lewat konsultasi dan pemeriksaan, Barnett diketahui menderita disleksia dan dispraksia. Dispraksia merupakan penyakit gangguan otak yang mengakibatkan penderitanya tidak bisa menentukan koordinat arah dan gerakan tubuh dengan baik. Penderita gangguan ini kesulitan melakukan aktivitas sederhana yang dilakukan manusia normal seperti berpakaian, mengikat tali sepatu, bahkan memegang pensil. Dari kecil, Louis tidak pernah berhenti menanyakan sesuatu. Umur enam bulan dia sudah belajar berbicara dan usia satu tahun dia sudah menanyakan mengapa ada lampu merah. Secara kecerdasan, dia memang tumbuh lebih cepat dari anak sebayanya,tapi dia justru sangat lamban dalam pembelajaran aktivitas sehari-hari  menurut ibunya Mary yang mengaku butuh waktu tiga bulan hanya untuk mengajari Barnett memegang pensil.

Setelah keluar dari sekolah, Barnett sempat menjadi relawan di sebuah pusat penangkaran burung elang selama 18 bulan. Suatu hari, remaja kelahiran 2 November 1991 ini membeli buku berjudul Belgian Chocolate Cakes and Chocolate di dekat pusat penangkaran itu. Sang guru privat yang melihat buku itu menyadari minat besar Barnett pada cokelat. Dia pun kemudian meminta Barnett membuat cokelat untuknya. Berawal dari cerita Jan (guru privat) dan cerita mulut ke mulut orang-orang dekatnya, kelezatan cokelat buatan Barnett semakin terkenal dan dia pun semakin sering dimintai pesanan untuk membuat cokelat. Saat pesanan membludak menjelang Natal 2005,dia pun memutuskan untuk membuka pabrik cokelat sederhana di garasi sang ayah.

Dengan bermodal 5.500 poundsterling (Rp93.500.000) yang diperoleh dari pinjaman bank dan kakeknya, Barnett memulai usahanya pada usia 14 tahun. Sebelum membuka usahanya, Barnett bercerita bahwa dia harus mencicipi 100 jenis cokelat untuk memilih bahan terbaik karena menderita disleksia, Barnett tidak bisa melafalkan chocolate dengan benar dan mengejanya dengan chokolit.

Ejaan inilah yang kemudian menjadi nama pabrik cokelat buatannya, hanya butuh waktu satu tahun bagi Barnett untuk memasarkan produknya hingga bisa menembus jaringan dua supermarket besar Inggris Sainsbury dan Waitrose. Barnett adalah penggemar makanan apa pun dan selalu ingin tahu dari mana dan bagaimana makanan itu terbuat? Orang tuanya selalu mengatakan bahwa Barnett bisa menjadi apa pun yang saya inginkan dan itu sangat mendorong ia untuk mendalami bisnis ini. Saat mencoba memasarkan produknya lebih luas, Barnett menemui kesulitan dalam mencari kotak cokelat yang menarik dan unik.Dia pun memutuskan untuk membuat kotak sendiri yang menjadikan produk cokelatnya semakin laris dan banyak dicari. Kini,dia sudah memproduksi 40.000 bungkus cokelat tiap tahun dan sanggup memasarkan cokelatnya hingga Swedia dan Prancis. Kotak-kotak pembungkus buatan Barnett juga laku keras.

Kisah sukses Barnett kemudian menjadi pembicaraan.Perdana Menteri Inggris Gordon Brown dan tokoh oposisi David Cameron bahkan tak ragu-ragu mengungkapkan kekagumannya kepada Barnett. Mereka menilai Barnett sebagai panutan yang pas bagi generasi muda Inggris. Barnett juga sudah membuktikan bahwa manusia tak normal seperti dirinya pun bisa sukses.

Meski muda dan sudah sukses, Barnett tidak lupa kepada sesama. Ia juga memiliki kepedulian besar terhadap lingkungan. Selain menyisihkan pendapatannya untuk menggalang dana demi penyelamatan orang utan Sumatera, dia juga menolak penggunaan minyak sawit dalam produk cokelatnya karena perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu penyumbang besar kerusakan hutan.

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: