MATERI Sy. LULU ASSAGAF

To Speak Without Thinking Is To Shoot Without Aun

MEMBANGUN PERSEPSI ANAK TENTANG PERDAMAIAN

Syarifa Lulu Assagaf, S.Psi

PENDAHULUAN

Ketenangan, ketentraman dan kedamaian adalah dambaan setiap individu yang sering menimbulkan masalah akibat penafsiran yang keliru. Kedamaian dikonotasikan dengan kesenangan, padahal kedamaian adalah sesuatu kenetralan yang berada di antara suka dan benci.
Dan untuk mewujudkannya, setiap individu mempunyai tanggung jawab dan kontribusi yang signifikan bagi tercapainya kedamaian seutuhnya. Perdamaian bukan hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sesaat, akan tetapi juga dapat menjamin keberlangsungannya di masa mendatang. Salah satu upaya penunjang yang sangat efektif adalah dengan membangun persepsi dan mentalitas anak tentang perdamaian.

Anak adalah bibit atau tunas dan generasi bangsa di masa mendatang yang akan melanjutkan estafet roda kehidupan, tentulah harus mendapatkan porsi pupuk yang begitu banyak guna menyuburkannya sebagai tunas yang unggul yang akan membuahkan hasil yang berkualitas bagi kelangsungan hidup di dunia di masa mendatang.

Kurangnya pemusatan perhatian para ilmuan terhadap pendidikan mental anak sejak dini adalah suatu kekeliruan besar yang berakibat fatal. Hal ini disebabkan oleh keyakinan tradisional yang telah mendarah daging dalam masyarakat sebagai pedoman yang siap pakai di dalam mendidik anak, dan diterima secara bulat bahwa pedoman itu cukup untuk diterapkan di rumah dan di sekolah. Ataupun disebabkan karena mudahnya mempelajari orang dewasa ketimbang anak-anak sehingga anak-anak dianggap sebagai miniature manusia dewasa maka para ilmuan lebih mempusatkan perhatian pada orang dewasa dan beranggapan bahwa apa yang telah dipelajarinya tentang orang dewasa dapat diterapkan untuk memahami anak-anak.

Motivasi untuk mempelajari anak-anak timbul dari minat terhadap cara mendidik mereka secara benar agar menjadi warga Negara yang baik dan berguna. Salah seorang yang pertama-tama mempelajari anak sebagai individu yang mempunyai peran penting dalam masyarakat adalah John Amos Comenius yang berkebangsaan Slavik, seorang pembaharu pendidikan yang terkenal di abad ketujuh belas. Comenius berpendapat bahwa anak-anak harus dipelajari bukan sebagai embrio orang dewasa melainkan dalam sosok alami anak yang penting untuk memahami kemampuan mereka dan mengetahui bagaimana berhubungan dengan mereka serta bagaimana mereka berhubungan dengan sekitarnya.

Penelitian ilmiah tentang anak-anak pada mulanya dipusatkan pada bidang spesifik perilaku anak, namun ternyata bahwa mempelajari berbagai bidang perilaku anak pada tahapan usia tertentu tidaklah cukup karena perkembangan anak lebih menekankan besarnya peran lingkungan dan pengalaman yang diperoleh dari persepsi ketimbang psikologi anak itu sendiri. Anak-anak telah menyadari adanya perbedaan baik jenis kelamin,  warna kulit dan lainnya yang ada di sekeliling mereka sejak dini meski belum pernah seseorang menjelaskan sebelumnya namun mereka belum memahami arti dari perbedaan itu.

Keberagaman  social, budaya, agama, etnis dan kelompok-kelompok masyarakat yang berada di lingkungan  anak, jelas akan mempengaruhi perkembangan mentalitas dan psikososialnya yang diperoleh melalui persepsi dan evaluasi juga pengalaman. Jika apa yang diperolehnya negative maka akan berakibat hilangnya kepercayaan terhadap lingkungan ataupun kebencian terhadap lingkungan di sekitarnya. Orang tualah yang memegang peranan penting dalam mengarahkan dan membimbing persepsi anak karena perkemabangan anak lebih condong untuk meniru dan mencontohi orang-orang disekelilingnya ketimbang nasehat yang mereka peroleh. Dan peran orang tua haruslah benar-benar sebagai role model utama bagi anak-anak namun kadang kala peran ini terabaikan oleh orang tua disebabkan oleh kesibukkan maupun kurangnya pengetahuan mereka.

Berdasarkan uraian di atas, menunjukkan pentingnya membangun mentalitas anak oleh orang tua dan orang dewasa di sekelilingnya guna menghasilkan generasi-generasi yang berkualitas dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan perdamaian di dalam bermasyarakat namun untuk mencapai semua itu, maka perlu kiranya mengetahui beberapa hal yang sangat berperan penting sebagai penunjang tercapainya tujuan tersebut.

Perdamaian

Konsep damai membawa konotasi yang positif, hampir tidak ada orang yang menentang perdamaian. Damai memiliki banyak arti dan berubah sesuai konteks kalimat. Perdamaian dapat menunjuk kepada suatu persetujuan mengakhiri sebuah perang, atau ketiadaan perang atau suatu periode dimana angkatan bersenjata tidak memerangi musuh. Kata damai juga dapat berarti keadaan tenang dan tentram atau dapat juga menggambarkan keadaan emosi dalam diri.

Keberadaan damai di dalam diri terletak diantara rasa cinta dan benci. Dengan kata lain, damai bukanlah cinta dan bukan pula benci melainkan netral diantara keduanya. Jika mencintai atau terlalu mencintai sesuatu maka akan melahirkan fanatisme yang berlebihan dan menimbulkan kebencian serta permusuhan terhadap yang lain yang akan menghilangkan kedamaian.

Konsep Persepsi Pada Anak

Berbagai gejala yang terjadi di luar diri kita dapat ditangkap melalui lima indera yang dimiliki. Proses penginderaan ini disebut Penginderaan (sensation). Tetapi pemahaman akan lingkungan atau alam di sekitar bukan sekedar hasil penginderaan semata. Ada unsur interpretasi terhadap rangsangan-rangsangan yang diterima. Interpretasi inilah yang menyebabkan kita menjadi subjek dari pengalaman sendiri dan rangsangan yang diterima akan menyebabkan kita mempunyai suatu pengertian terhadap lingkungan.

Menurut Rukminto, persepsi adalah proses mental yang terjadi pada diri manusia yang menunjukkan bagaimana kita melihat, mendengar, merasakan, memberi serta meraba kerja indera di sekitar kita. Menurut Widayatun , persepsi adalah pengalaman yang terbentuk berupa kata-kata yang dapat melalui indera, hasil pengolahan otak dan ingatan. Sedangkan menurut Rahmat, persepsi adalah pengalaman tentang objek, hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.

Terjadinya persepsi adalah karena objek atau stimulus yang merangsang untuk ditangkap oleh panca indera, kemudian stimulus atau objek perhatian tadi dibawa ke otak, dari otak terjadinya kesan atau jawaban ( respon ), adanya stimulus berupa kesan atau respon kemudian dibalikkan berupa tanggapan atau persepsi atau hasil kerja indera berupa pengalaman hasil pengolahan otak.

Persepsi bersifat subjektif karena bukan sekedar penginderaan. Persepsi terhadap dunia nyata merupakan olahan semua data dan informasi yang diterima oleh indera-indera yang dipengaruhi oleh kondisi psikologis dan pengalaman. Persepsi tidak selalu terjadi di saat objek atau gejala itu langsung ditangkap oleh panca indera.

Keberadaan suatu objek pengamatan menggejala sebagai suatu figur yang menonjol diantara objek-objek lain, baik karena sifatnya yang memang menyolok atau karena dengan sengaja pengemat memusatkan perhatian pada objek tertentu. Jika objek-objek di sekitar kita tidak mempunyai daya tarik yang sama maka figur mempunyai bentuk yang lebih jelas disbanding latar belakang, latar belakang dapat diamati sebagai gejala yang tidak mempunyai batas sedangkan figure mempunyai batas, dan dan letak figur akan semakin menonjol di depan latar belakang. Persepsi anak akan lebih cenderung melihat orang tua sebagai figur dan idola dalam berbuat dan berinteraksi dan akan mencari figur lain jika orang tua lalai berperan sebagai figur.

Faktor-Faktor Perkembangan Perilaku Anak

Pada umumnya, perilaku dapat ditinjau secara social yaitu pengaruh hubungan antara organism dengan lingkungannya terhadap perilaku dan intrapsikis yaitu proses-proses dan dinamika mental/psikologis yang mendasari perilaku.

Sejak dahulu, para ahli berdebat mengenai factor mana yang paling dominan mempengaruhi perkembangan individu, bawaan ataukah lingkungan. Perdebatan ini dikenal dengan istilah kontroversi Nature vs Nurture.

Tidak  dapat disangkal bahwa factor bawaan (nature) pada ciri-ciri fisik dan mental tertentu diturunkan dari generasi ke generasi, seperti perbedaan warna kulit, tinggi badan dan berbagai ciri anatomis tubuh lainnya. Berbagai penemuan mutakhir juga menunjukkan bahwa temperamen seseorang banyak dipengaruhi oleh susunan gen yang dikenal dengan nama Enkephalin dan Endorfin.

Aliran nativisme, yang dipelopori Schipenhauer (1788-1860) dan para filosof seperti Plato dan Descartes memandang bahwa perkembangan manusia sudah ditentukan oleh alam. Lingkungan ataupun pendidikan tidak dapat merubah arah perkembangan seseorang namun aliran ini menimbulkan gerakan pesimisme pedagogis.

Berbagai ciri yang dibawa individu sejak lahir, terdapat banyak segi keperibadian individu yang diperolehnya dari factor lingkungan (Nurture) melalui proses belajar dan pendidikan. Alam tidaklah mempersiapkan seseorang untuk menjadi dosen, ahli hokum, atau dokter. Semua tekanan yang berbeda baik karena geografis maupun status social harus dipelajari oleh individu sehingga bila tiba saatnya ia harus mandiri dalam lingkungannya  maka ia sudah siap. Hasil belajar ini tentu akan sangat mempengaruhi keperibadiannya secara keseluruhan.

Hal ini sesuai dengan aliran Empirisme yang dipelopori oleh John Locke (1632-1704), berpendapat bahwa manusia lahir Tabularasa, putih bersih bagaikan kertas yang belum ditulisi. Lingkunganlah yang membentuk seseorang menjadi manusia seperti dia pada waktu dewasa. Oleh karena itu, lingkungan harus diatur dengan baik agar anak-anak kelak menjadi manusia dewasa yang baik dan mandiri. Perlunya pendidikan, karena darinya seseorang akan banyak belajar tentang kehidupan.

Perkembangan Moral dan Psikososial Anak

Perkembangan moral dianggap sebagai suatu aspek penting karena sangat menentukan kepribadian individu sebagai mahluk social. Kohlberg membagi perkembangan moral dalam tiga peringkat. Pertama; Prakonvensional yang ditandai dengan besarnya pengaruh wawasan kepatuhan dan hukuman terhadap perilaku anak. Dalam tahap selanjutnya, anak mulai menyesuaikan diri dengan harapan-harapan lingkungan untuk memperoleh hadiah berupa pujian, permen maupun senyuman.

Kedua; peringkat Konvensional dimana seorang anak terpaksa mengikuti atau menyesuaikan diri dengan berbagai harapan lingkungan atau ketertiban social agar disebut sebagai anak yang baik atau anak yang manis. Ketiga; Purna-Konvensional dimana seorang anak mulai mengambil keputusan dan sikap tentang nilai baik dan buruk secara mandiri. Penyesuaian diri terhadap segala aturan di sekitarnya lebih didasarkan atas penghargaannya dan rasa hormatnya terhadap orang lain.

Sedangkan menurut  Piaget, moral berkembang dalam dua tahapan yang berbeda. Tahap pertama disebut Realisme moral atau moralitas berkendala. Tahap ini berkembang hingga anak berusia 7 (tujuh) tahun. Anak otomatis akan menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada tanpa penelaah-an rasional. Orang tua dan para dewasa di sekitarnya dianggap sebagai makhluk-makhluk serba bisa dan superman, oleh karena itu patut diikuti tanpa harus bertanya-tanya. Benar dan salah didasarkan atas konsekuensi dari perilakunya.

Tahap perkembangan moral yang kedua adalah moralitas otonom atau moralitas hasil interaksi seimbang dimulai sejak usia 8 (delapan) tahun hingga ia menjadi dewasa. Pada masa ini konsep benar dan salah yang dipelajari dari orang tuanya perlahan-lahan mulai berubah tergantung situasi dan factor-faktor lain. Ketika anak  sudah berusia 12 (dua belas) tahun, maka kemampuan untuk berabstraksi memungkinkan anak mengerti alasan yang ada di balik setiap aturan atau harapan orang lain. Oleh karena itu, anak dapat mempertimbangkan konsekwensi perilakunya secara rasional.

Teori perkembangan Psikososial oleh Erik H Erikson (1902) sangat dipengaruhi oleh psiko analisa Freud. Beliau tidak mendasarkan teori perkembangan pada libido melainkan pada pengaruh social-budaya yang terdapat pada lingkungan individu. Selain itu, Erikson masih menggunakan konsep-konsep naluri Freud yang dibentangkannya pada dua titik  ekstrem (positif-negatif) sebagai suatu konflik yang diungkapkan dengan kata “venus” yang bukan berarti “lawan”. Konflik ini menimbulkan suatu krisis. Terselesaikannya krisis itu akan mempengaruhi perkembangan individu. Bagi Erikson, krisis bukanlah malapetaka, tetapi suatu titik tolak perkembangan Psiko-sosial. Teori perkembangan psikososial Erikson ini terbagi menjadi delapan tahap :

  1. a. Basic Trust vs Basic Mistrust (0-1 tahun)

Kebutuhan akan rasa aman dan ketidak berdayaannya menyebabkan konflik yang dialami oleh anak, dalam tahap ini adalah Basic Trust vs Basic Mistrust. Bila rasa aman dipenuhi, maka anak akan mengembangkan dasar-dasar kepercayaan terhadap lingkungan. Sebaliknya, bila anak merasa terganggu, tidak merasakan kasih sayang dan rasa aman, maka anak akan mengembangakan perasaan tidak percaya pada lingkungan. Seorang Ibu sangat memainkan peranan penting pada tahap ini.

  1. b. Autonomy vs Shame and Doubt (2-3 tahun)

Organ-organ tubuh semakin matang dan terkoordinasi. Anak dapat melakukan aktifitas secara meluas dan berfariasi oleh karena itu konflik yang dihadapi anak dalam tahap ini adalah perasaan mandiri vs perasaan malu dan ragu-ragu. Pengakuan, perhatian dan pujian serta dorongan akan menimbulkan perasaan percaya diri memperkuat egonya. Jika yang terjadi sebaliknya, maka akan berkembang perasaan ragu-ragu. Pada tahap ini, kedua orang tua merupakan objek social terdekat baginya dan mempunyai peran penting.

  1. c. Initiative vs Guilt (3-6 tahun)

Pada tahap sebelumnya anak mengembangkan perasaan percaya diri dan mandiri, maka ia akan berani mengambil inisiatif yaitu perasaan bebas untuk melakukan segala sesuatu atas kehendak sendiri. Tapi bila pada tahap sebelumnya ia mengembangkan perasaan ragu-ragu, maka ia akan selalu merasa bersalah dan tidak berani melakukan sesuatu atas kehendak sendiri.

  1. d. Industry vs Inferiority (6-11 tahun)

Anak sudah mampu melakukan pemikiran logis dan anak sudah mulai bersekolah. Oleh karena itu tuntutan dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar sudah semakin luas. Konflik yang dihadapi pada tahap ini adalah perasaan sebagai seseorang yang mampu melawan perasaan rendah diri. Bila kemampuan untuk menghadapi tuntutan-tuntutan lingkungan dihargai (misalnya di sekolah), maka akan berkembang rasa bergairah untuk lebih produktif. Sedangkan bila sebaliknya yang terjadi dan dialami oleh anak, maka timbul perasaan rendah diri.

  1. e. Identity vs Role Confusion (mulai usia 12 tahun)

Anak mulai dihadapkan pada harapan-harapan kelompok dan dorongan yang makin kuat untuk lebih mengenal dirinya. Ia harus mulai memutuskan bagaimana masa depannya. Konflik yang dihadapi adalah perasaan menemukan dirinya sendiri vs kekaburan peran. Bila ia berhasil melalui tahap-tahap sebelumnya, maka ia akan menemukan dirinya. Bila sebaliknya yang terjadi maka ia akan merasakan kekaburan peran.

  1. f. Intimacy vs Isolation

Individu sudah mulai mencari-cari pasangan hidup. Oleh karena itu, konflik yang dihadapi pada tahap ini adalah kesiapan untuk berhubungan secara akrab dengan orang lain vs perasaan terkuat. Seseorang yang berhasil membagi kasih sayang dan perhatian dengan orang lain akan mendapatkan perasaan kemesraan dan keintiman. Sedangkan yang tidak dapat membagi kasih sayang akan merasa tersaing dan terkucilkan.

  1. g. Generativity vs Self-Absorbtion

Krisis yang dihadapi individu pada tahap ini adalah adanya tuntutan untuk membantu orang lain di luar keluarganya, pengabdian masyarakat, dan manusia pada umumnya. Pengalamannya di masa lalu dapat menyebabkan individu mampu berbuat banyak bagi kemanusiaan. Tapi bila pada tahap-tahap yang silam ia memperoleh banyak pengalaman yang negative maka ia mungkin terkurung dalam kebutuhan dan persoalannya sendiri.

  1. h. Ego Integrity vs Despair

Pada tahap ini, individu akan menengok masa lalu. Kepuasan akan prestasi dan tindakan-tindakannya di masa silam akan menimbulkan perasaan puas. Bila ia merasa semuanya belum siap atau gagal maka akan menimbulkan kekecewaan yang mendalam ataupun kebencian terhadap lingkungan di masa lalu.

Interaksi Sosial

Manusia selalu membutuhkan manusia yang lain hampir dalam segala hal. Sejak kecil telah terbiasa bergantung pada lingkungan social dan orang-orang di sekitarnya, walau ketergantungan ini semakin berkurang  pada waktu beranjak dewasa, akan tetapi tetap saja ada dalam bentuk-bentuk yang bervariasi, inilah yang disebut dengan interaksi social. Beberapa factor yang sangat mempengaruhi aksi dan reaksi dalam situasi social atau society relation adalah:

  1. Persepsi Sosial

Persepsi social adalah kesadaran individu akan adanya orang lain atau perlilaku orang lain yang terjadi di sekitarnya dan dapat juga diartikan sebagai penilaian terhadap penampilan fisik dan ciri-ciri prilaku orang lain.

Pandangan kita tentang ciri-ciri tingkah laku dari sekelompok orang tertentu, baik kelompok kelas ekonomi, jenis kelamin, etnis, agama dan lain-lain sangat mempengaruhi kesan pertama. Kecenderungan untuk melihat kesamaan yang ada atara individu dengan orang asing yang ditemuinya. Daya tarik fisik jelas akan sangat mempengaruhi kesan pertama.

  1. Daya Tarik Interpersonal

Daya tarik interpersonal, menurut Baron dan Byrne (1977) adalah evaluasi seseorang terhadap orang lain secara positif maupun negative yang sedang atau pernah dialami. Kesamaan sikap akan membuat orang cenderung menyukai orang lain.

Perasaan orang lain pun terhadap kita ternyata mempunyai kekuatan yang cukup besar. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa walaupun diantara dua orang terdapat perbedaan cukup mendasar mengenai berbagai isu (misalnya; abortus, perceraian, kawin campur dan lain-lain) bila mereka saling mengagumi maka hubungan mereka akan dapat menjadi akrab.

  1. Sikap dan Prasangka

Secara sederhana, Crider dkk (1983:422) menyatakan bahwa evaluasi positif maupun negative terhadap orang, objek, peristiwa atau ide-ide tertentu  di atas  disebut dengan sikap. Secara lebih rinci Baron, Byrne (1980) menyatakan bahwa sikap adalah sekelompok perasaan, keyakinan dan kecenderungan berperilaku yang bersifat relative tahan lama terhadap suatu objek, orang, kelompok, etnis, agama, atau isu tertentu. Dengan kata lain, dapat mengerti bahwa sikap merupakan suatu kecenderungan untuk bertindak atau merespon bila individu dihadapkan pada suatu rangsangan tertentu.

Sikap maupun prasangka merupakan hasil dari proses belajar. Proses belajar ini dapat terjadi karena pengalamannya sendiri dalam objek-objek sikapnya, tetapi juga dapat diperoleh karena orang tua atau masyarakat (termasuk sekolah) dan sumber-sumber lain ( misalnya; buku, film dan lain-lain) mengajarkan fakta-fakta tertentu mengenai objek sikap tersebut. Oleh karena itu, usaha-usaha untuk mengubah sikap (terutama yang negative) dapat dilakukan juga melalui proses belajar. Meskipun demikian, telah dibuktikan berkali-kali bahwa perubahan kognitif yang tidak disertai dengan perubahan afektif, tidak akan menghasilkan perubahan tingkah laku.

Pada umumnya, sikap anak terhadap orang, benda-benda, dan kehidupan secara keseluruhan berpola pada kehidupan rumah. Meskipun tidak satupun pola pendidikan anak yang dapat menjamin penyesuaian yang baik atau penyesuaian yang buruk, baik pribadi maupun social. Ada bukti yang menunjukkan bahwa anak yang dibesarkan dalam suasana rumah yang demokratis umumnya mempunyai penyesuaian diri yang lebih baik dengan orang-orang di luar rumah daripada anak-anak dari suasana rumah yang lembut atau otoriter.

Kondisi yang paling penting yang mempengaruhi penyesuaian anak, baik pribadi maupun social kemasyarakatan, adalah jenis hubungan orang tua-anak selama tahun-tahun masa awal kanak-kanak. Pengaruh ini berasal dari kedekatan hubungan anak dengan anggota keluarga.

Peran Orang Tua

Tugas dan tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak sering kali terabaikan disebabkan oleh kesibukan pekerjaan ataupun kurangnya pengetahuan dalam mendidik anak. Terlebih lagi dengan perannya dalam rumah tangga. Dekadensi moral sebagai akibat yang sangat fatal menampar wajah orang tua akan membuat mereka kebingungan dan saling menyalahkan dan mengkambing hitamkan orang lain. Hal ini karena lalainya dan minimnya pengetahuan orang tua itu sendiri tentang peranan mereka dalam keluarga. Di bawah ini beberapa peran penting orang tua dalam membangun persepsi anak tentang kemajemukan lingkungan sekelilingnya :

  1. Sivilisasi Ideal

Pada usia 0-1 tahun, kebutuhan anak akan rasa aman dalam ketidak berdayaannya menyebabkan konflik. Bila rasa aman dipenuhi, maka anak akan mengembangkan dasar-dasar kepercayaan terhadap lingkungan. Sebaliknya, bila anak merasa terganggu, tidak merasakan kasih sayang dan rasa aman, maka anak akan mengembangakan perasaan tidak percaya pada lingkungan. Seorang Ibu sangat memainkan peranan penting pada tahap ini, karena fungsi keibuannya akan membudayakan anak manusia menjadi makhluk yang berbudaya (civilized), dan memiliki gambaran-gambaran ideal tertentu mengenai keperibadian manusia dan bentuk masyarakat ideal yang diinginkannya.

Sivilisasi ini dapat dibagi menjadi tiga, yaitu Sivilisasi yang bersifat moril, karena melalui tangan ibu akan menghasilkan produk manusia-manusia susila yang mampu membedakan hal-hal yang baik dari yang buruk dan mengemban tugas  moril dalam melaksanakan kemanusiannya. Sivilisasi yang bersifat religious, karena salah satu tugas ibu adalah mewariskan nilai-nilai keagamaan untuk menuntun anak manusia pada “asal dan akhir kehidupan”. Sivilisasi Artistik, karena di tangan ibulah akan dapat dibangun nilai-nilai estetis atau keindahan sehingga manusia dapat berkreasi dan mampu memunculkan perasaan indah, senang dan bahagia.

  1. Role Model

Diane Maluso, Associate Professor of Psycology in Elmira College menekankan pentingnya peran orang tua sebagai figur dan tauladan bagi anak-anaknya dan jika orang tua lalai sebagai figure maka anak akan mencari figure-figur yang lain. “Anak-anak mulai belajar bersikap dari sikap orang tua terhadap orang lain, baik cara orang tua berinteraksi maupun ungkapan-ungkapan yang dilontarkan mengenai orang lain”. Lewat sikap dan bahasa yang digunakan orang tua terhadap orang lain, anak-anak akan belajar tentang konsep diri dan relasinya dengan orang lain.

Jika orang tua memiliki hubungan baik dan menunjukkan rasa hormat kepada orang yang berbeda, baik secara fisik, gender, agama, etnis, status social dan lain-lain maka anak akan belajar bahwa semua perbedaan tersebut bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan. Namun jika orang tua kerap meremehkan atau berbicara tidak sopan kepada orang lain maupun orang tertentu maka dengan sendirinya anak akan belajar mencontohi. Misalnya cara berbicara orang tua terhadap pembantu.

  1. Konselor

Anak mulai dihadapkan pada harapan-harapan kelompok dan dorongan yang makin kuat untuk lebih mengenal dirinya di usia 12 tahun. Ia harus mulai memutuskan bagaimana masa depannya. Konflik yang dihadapi adalah perasaan menemukan dirinya sendiri vs kekaburan peran. Bila ia berhasil melalui tahap-tahap sebelumnya, maka ia akan menemukan dirinya. Bila sebaliknya yang terjadi maka ia akan merasakan kekaburan peran.

Peran sikap dan ketrampilan orang tua sebagai konselor ataupun tempat curhat yang menerima/peduli, memahami dan terbuka akan membantu anak dalam mengenali, mengidentifikasikan dan memotivasi tujuan-tujuan yang akan mengarahkan aktifitas anak. Dengan konseling antara orang tua dan anak akan membantu anak dalam pemecahan masalah (problem resolution), perubahan tingkah laku (behavioral change), keefektifan pribadi (personal effectiveness), pembuatan keputusan (decision making) ataupun kesehatan mental positif (positive mental helath).

Kesimpulan dan saran

Membangun persepsi anak tentang perdamaian bukanlah pekerjaan mudah bagaikan membalik telapak tangan melainkan orang tua harus dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang cukup tentang perkembangan psikologi dan konflik yang dihadapi anak serta pemecahan masalah agar peran orang tua akan benar-benar efektif. Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai perkembangan psikologi anaknya akan membuat mereka masa bodoh dan lalai dengan peran sebagai orang tua.

Untuk menciptakan kemampuan anak dalam bedrinteraksi dengan berbagai kalangan, bekerja sama dan menghormati orang lain maka peran orang tua dan orang dewasa di sekitarnya harus benar-benar memerankan perannya sebagai role model dan figure yang selalu ditauladani serta menjadi konselor dalam memberikan solusi terhadap konflik yang dihadapi dan memberikan pengajaran nyata ataupun lewat buku-buku dan film tentang bagaimana berinteraksi dengan berbagai kalangan dimulai dari lingkungan terdekat hingga seterusnya yang berbeda-beda.

Daftar Pustaka :

Hardy, Malcolm dan Heyes, Steve. Pengantar Psikologi. Terjemahan edisi ke-2. Jakarta : Erlangga, 1992.

Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan. Edisi terjemahan. Jakarta : Erlangga, 1994.

Jalaluddin, Rahmad MSC Drs. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya. 1983.

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: