MATERI Sy. LULU ASSAGAF

To Speak Without Thinking Is To Shoot Without Aun

CERITA DALAM CERITA BURUNG TAONG-TAONG

S. Lulu Assagaf, S.Psi

Keindahan pemandangan alam di dusun Riu sangat memukau ketakjuban, letaknya yang sangat strategis di sebuah lembah yang terapit oleh bebukitan dan pegunungan yang ditumbuhi pepohonan jati dan tanaman lainnya serta lahan perkebunan yang luas membuat dusun ini subur, sejuk dan indah dipandangi.
Mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai petani dan buruh di perkebunan. Dusun ini termasuk salah satu dusun yang makmur dari beberapa dusun yang terletak di desa Piru.

Di dusun inilah, tinggal seorang janda bernama bu Ati dengan ketiga orang anak laki-lakinya (si Sulung berumur 8 tahun, si Tenga berumur 6 tahun dan si Bungsu berumur 4 tahun). Pekerjaan sehari-hari bu Ati adalah sebagai seorang pemetik sayuran di kebun para tetangga yang membutuhkan tenaganya dengan upah yang sangat pas-pasan dan tidak mencukupi untuk menghidupi ketiga anaknya yang masih kecil, karena upah yang diterima bu Ati sesuai dengan banyaknya sayuran yang telah dipetiknya.

Kondisi ekonomi keluarga bu Ati tergolong sangat memprihatinkan diantara penduduk di dusun Riu ini, mengingat tulang punggung keluarga atau suaminya  telah tiada empat tahun yang lalu di saat membantu majikannya memadamkan api yang sedang melahap perkebunan. Peristiwa ini bertepatan dengan lahirnya putra ketiganya. Mau tak mau beban dan tanggung jawab menghidupi ketiga anaknya menjadi kewajiban bu Ati.

Sejak suaminya meninggal dunia, kondisi rumah tangga mereka pun berubah dari keluarga bahagia dan damai menjadi keluarga yang susah dan penuh keributan lantaran pekerjaan mendidik anak sedikit terabaikan oleh pekerjaan menghidupi ketiga anaknya.

Suatu hari, pak Carles seorang pemilik perkebunan sayuran di dusun itu yang juga mantan majikan suami bu Ati bekerja sebelum beralih pekerjaan pada majikan yang lain, datang dengan niat membantu bu Ati dengan menawarkan dan meminta jasanya untuk memetik sayuran di perkebunannya.

”Permisi, saya ingin menggunakan jasa bu Ati untuk memetik sayuran di perkebunan saya” pinta pak Carles

”Baik pak, dengan senang hati. Kira-kira kapan mulainya” tanya bu Ati

”Pagi ini, karena sore nanti sayuran tersebut akan dibawa ke kota” jawab pak Carles.

Seminggu yang lalu, bu Ati hanya dapat berdiam diri di rumah tanpa ada tawaran pekerjaan, sehingga kebutuhan anak-anaknya sama sekali tidak ada. Dengan adanya tawaran dari pak Carles, bu Ati merasa bahagia dan berniat untuk bekerja dengan sungguh-sungguh agar dapat menghidupi ketiga anaknya.

”Baik pak, saya akan segera memetiknya untuk bapak, terima kasih sebelumnya” jawab bu Ati dengan penuh rasa kegirangan.

”Baik. Saya permisi” pamit pak Carles.

Bu Ati berniat mengajak ketiga anaknya untuk membantunya memetik sayuran di kebun pak Carles yang telah meminta jasanya.

”Anak-anak, maukah kalian bertiga hari ini membantu ibu memetik sayuran di perkebunan pak Carles?”,

Si Bungsu merasa senang dan bahagia menyambut ajakan ibunya, seakan ia akan diajak berangkat piknik ke suatu tempat untuk bertamasya,

”Horee…Ma, nanti Bungsu saja yang membawa kokol yah”.

Si Tenga tak mau ketinggalan menunjukkan partisipasi dan pengabdiannya membantu sang ibu,

”Bu…pokoknya nanti saya yang akan membawa dan memikul karung untuk mengisi banyak sayuran agar penghasilan hari ini dapat mencukupi kebutuhan kita”.

Si Sulung hanya bisa tersenyum memperhatikan tingkah kedua adiknya yang lucu dan kekanak-kanakan namun sok dewasa.

Sesaat kesangsian bu Ati terbesit di hati yang hanya dapat berguman dan berdoa,

”Hmmm…mudah-mudahan anak-anak saya selalu kompak dan benar-benar dapat membantu memetik sayuran hari ini”.

Hal ini disebabkan oleh sikap dan tingkah ketiga anaknya yang kadang akur dan kompak penuh kebersamaan dan sering pula cekcok, ribut atau berkelahi. Namun karena tujuan dan harapan bu Ati yang sangat menggebu untuk mendapatkan penghasilan yang cukup demi keluarga, bu Ati berbesar hati mengajak ketiga anaknya dengan harapan, bantuan dari ketiga anaknya akan membawa hasil yang lebih banyak dan upah yang akan mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka.

”Sudah siap?, ayo kita barangkat jangan sampai terlambat”

Bergegaslah mereka dengan langkah yang penuh semangat dan harapan ke perkebunan milik  pak Carles. Sesekali gurauan ringan mengisi langkah mereka.

”Bu…kalau tiap hari kita bekerja sama seperti ini, tentu kita akan menjadi orang yang kaya” Ujar si Tenga di sela-sela langkah mereka

”Kalau bapak masih hidup, pasti kita tidak akan seperti ini yah bu” tambah si Bungsu polos

Untuk menghilangkan kesedihan mengingat masa lalu, bu Ati segera mengalihkannya dengan pembicaraan yang lain.

”Sedikit lagi kita akan sampai” jawab bu Ati ringkas namun fikirannya masih terbebani oleh ucapan-ucapan anak-anaknya tadi.

Setibanya di kebun pak Carles, bu Ati mulai membagi tugas dan peralatan pada masing-masing anaknya,

”Sulung…kamu mulai memetik dari bagian Utara!”

”Tenga…nanti kamu mulai memetik dari bagian timur yah!”

”Ibu dan Bungsu akan memulai dari sini” sambil menunjukkan telunjuknya ke arah tempat dimana mereka berdiri.

”Bu, hari ini, Sulung paling bahagia dan bangga karena dapat membantu meringankan beban ibu ”, kata si Sulung.

Si Tenga tak mau ketinggalan menunjukkan keseriusannya membantu ibu,

”Pokoknya ibu tenang saja, hari ini, saya yang akan sangat membantu ibu memberikan persembahan istimewa dengan banyaknya hasil petikan sayuran saya”. Bu Ati serasa ingin meneteskan air mata di saat mendengar ucapan kedua anaknya.

Sementara si Bungsu tengah asik sendiri memainkan dedaunan sayuran dengan tangannya  tanpa memperhatikan yang lain. Dan mereka pun mulai memetik sayuran.

Apa yang disangsikan bu Ati ternyata benar dan menjadi kenyataan. Keisengan dari si Bungsu dan si Tenga mulai memanas dengan saling melemparkan sayuran. Cekcok pun terjadi diantara mereka yang membuat pekerjaan bu Ati tertunda dalam meleraikan kedua anaknya. Bergegas bu Ati menurunkan sayuran yang telah ia petik dan berlari kecil menuju ke arah kedua anaknya.

”Sudah…sudah..,ibu tidak suka melihat kalian berdua membuat onar, bukannya tadi kalian berdua telah serius ingin membantu ibu?, kalau tidak mau lagi membantu ibu, lebih baik kalian berdua pulang saja ke rumah dan jangan sekali-kali memprotes ibu, jika nanti tidak ada makanan untuk dimakan hari ini di rumah”

”Habisnya dia sih yang mulai melempar duluan” ujar si Tenga.

”Kamu tuh yang mulai mencari gara-gara duluan” jawab si Sulung

”Sudah, jangan bertengkar lagi,! nanti banyak orang yang melihat, besok-besok tidak ada lagi orang yang mau meminta jasa ibu memetik sayuran di kebun mereka lantaran melihat ulah kalian.” bentak bu Ati untuk menyudahi pertengkaran itu.

Dengan rasa sangat bersalah keduanya pun mulai melanjutkan pekerjaan mereka. Namun tiba-tiba keduanya kaget dan berteriak histeris, serempak mereka berteriak :

”Haaaa….bu, liat nih kenakalan si Bungsu,!”

Si Bungsu dengan keluguannya menumpahkan sayuran yang telah dipetik oleh kedua kakaknya dan menginjak-injaknya dengan kaki di saat mereka tengah asik bertengkar. Keributan diantara mereka semakin menjadi-jadi dengan saling memarahi dan menyalahkan. Si Sulung dan si Tenga melampiaskan amarah mereka kepada si Bungsu dengan penuh murka :

”Adik…kok kamu nakal bangat, sudah susah payah kakak kerja memetik sayuran agar ada tambahan uang untuk makan tapi mengapa dirusakin dan diinjak-injak?, kalo nanti uangnya tidak cukup untuk membeli makanan, kamu yang tidak boleh makan”,

Dengan wajah tanpa rasa bersalah, si Bungsu menjawab;

”Soalnya kalian berdua ribut terus bikin ibu semakin pusing, tenang saja…nanti saya akan petik menggantikan semuanya”.

”Bicara saja masih belum lancar, apalagi memetik sayuran, dasar manja dan sombong” ujar si Tenga sinis.

”Kalau bagitu kita berdua beristirahat, biarkan saja si Bungsu yang memetik sendiri membuktikan ucapannya” tambah si Sulung

Merasa dimarahi oleh kedua kakaknya, si Bungsu mulai memecahkan tangis sambil berlari ke arah sebuah pohon dan duduk bersandar pada akar-akarnya sambil mengeluarkan unek-uneknya sendiri dibarengi sesekali isak tangis,

”Huhuhu…kalian semua sudah tidak sayang lagi denganku, padahal saya masih kecil dan tadi hanya bermain-main saja, dari pada melihat kalian bertengkar, bikin ibu pusing”

Melihat gelagat si Bungsu yang menyendiri penuh tangis di bawah pohon, bu Ati memberhentikan pekerjaan memetiknya dan menghampiri anaknya seraya memeluknya dan bertanya:

”Kanapa menangis sayang?”

”Soalnya kakak Sulung dan Tenga terus-terusan memarahi saya, saya kan masih kecil, lebih baik Bungsu pulang saja ke rumah bu”

”Tunggu sebentar lagi yah sayang, ibu memetik sedikit tambahan sayuran lagi biar semakin banyak hasil petikan kita hari ini dan uang yang akan kita peroleh pun bisa digunakan untuk membeli beras dan lauk pauk lainnya, kalo ada uang lebihnya nanti ibu belikan adik mainan, mau kan?” bujuk bu Ati

”Kita pulang saja bu, biar tidak makan dan tidak dibelikan mainan juga tidak apa-apa dari pada tetap disini dan diomelin”

”Kakak Bungsu dan Tenga bukannya memarahin, Cuma kaget melihat hasil petikan mereka diobrak-abrik saja kok” ucap bu Ati mencoba memberikan pengertian kepada si Bungsu.

Melihat tingkah Bungsu yang manja, Sulung dan Tenga pun datang menghampir,

”Dasar anak manja, suka bikin masalah” Ujar Sulung

”Buuu…liat kakak nih, mulai cari masalah”

”Sudah…sudah…lebih baik kita pulang saja, karena pekerjaan hari ini tidak mungkin lagi dilanjutkan, apalagi langit mulai menghitam pertanda hujan lebat akan segera turun. Sulung dan Tenga, kalian berdua kumpulkan samua sayuran yang sudah dipetik” Perintah bu Ati

Sulung dan Tenga bergegas mengumpulkan semua sayuran yang telah mereka petik hari ini untuk diserahkan kepada pak Carles pemilik kebun.

Keributan yang terjadi tidak terselesaikan. Dengan sedikit kekesalan di hati, bu Ati mengajak ketiga anaknya pulang dengan membawa hasil yang sangat tidak mencukupi yang akan diserahkan kepada pak Carles,

Sesampainya di rumah pak Carles, bu Ati segera menyerahkan sayuran hasil petikan mereka hari ini, seraya berkata:”Ini pak hasil petikan kami hari ini” Ucap bu Ati sambil menyodorkankan hasil petikan mereka.

Pak Carles; ”Ow mana? Semuanya ada barapa karung?”

”Cuma tiga saja pak” jawab bu Ati memelas

”Hmm….tidak apalah” guman pa Carles sedikit kecewa

”Maafkan kami pak, Cuma itu yang bisa kami petik hari ini, mungkin di lain hari, kami akan memetik lebih banyak lagi” pinta bu Ati

Kemudian pak Carles mengeluarkan uang dari dompet di sakunya dan memberikan 10 ribu rupiah sebagai upah memetik sayuran kepada bu Ati sesuai jumlah petikannya, satu karung sayuran seharga 3 ribu rupiah,

”Ini bu upahnya, saya genapkan menjadi 10 ribu, kalau besok masih mau melanjutkan pekerjaan memetik sayuran di kebun saya, kabari yah!”

”Tarima kasih pak, nanti saya kabari, permisi” pamit bu Ati

Dengan langkah tanpa semangat bu Ati berusaha tegar di hadapan ketiga anaknya. Mereka melangkah menuju rumah. Sebelum tiba di rumah, bu Ati sempatkan diri  membeli beras dan lauk pauk secukupnya untuk dibawa pulang sebagai menu makanan mereka hari ini.

Setibanya di rumah, bu Ati lantas bersiap menanak nasi dan memerintahkan ketiga anaknya untuk mandi dan mengganti pakaian mereka. Si Sulung yang masih merasa bersalah atas kejadian di kebun tadi, iba melihat beban dan besarnya tanggung jawab sang ibu, ia ingin membantu meringankan beban ibunya, spontan ia berkata:

”Buu…mari saya bantu ibu biar kita capat makannya”

”Sudah sana mandi dulu biar barsih, sehabis mandi pasti makanannya sudah  siap tersaji” jawab bu Ati tak mau merepotkan anaknya.

Sementara ketiga anaknya sedang asik mandi, bu Ati tengah sibuk di dapur memasak dan mempersiapkan makanan. Makanan pun mulai disajikan di atas tikar yang terbentang di atas lantai ruangan tengah sebagai tempat untuk tidur, makan dan segala aktifitas di dalam rumah, mengingat kecilnya gubuk yang dimilikinya yang hanya terdapat satu ruangan dan dapur saja.

Makanan pun telah tersedia berbarengan dengan selesainya anak-anaknya mandi dan mengganti pakaian masing-masing,

”Ayo anak-anak! Makanan sudah siap”

Mereka pun mulai menyantap hidangan yang telah disajikan oleh sang ibu. Terlihat gerak-gerik bu Ati yang sedikit kaku dengan hanya mengambil sedikit makanan untuknya karena apa yang ia masak hari ini tidak cukup untuk mereka berempat. Si Sulung yang dapat merasakan perasaan ibunya ikut terharu dan berkata sambil mengulurkan makanannya :

”Buu…ibu makan ini saja, Sulung masih kanyang”

”Sudah…kamu saja yang makan yah nak, ibu sudah terbiasa hidup seperti ini, yang penting kalian samua sehat, pasti ibu sangat bangga dan sanang”

Pertengkaran yang sebelumnya telah redam kini mulai terpancing lahir kembali dan belum juga usai terjadi diantara mereka.

”Ini samua gara-gara kakak dan adik bungsu, coba kalo tidak  memulai mengejek dan mencari masalah pasti hasil yang kita peroleh hari ini bisa banyak, makanan juga bisa cukup untuk kita semua” imbuh si Tenga memulai mengusik sebab pertengkaran tadi.

”Kamu yang mulai duluan kok malah menuduh” jawab si Sulung

”Sudah…sudah…tidak perlu ribut lagi nasi sudah menjadi bubur jadikan saja sebagai pelajaran. Kalau masih ribut nanti makanannya tersangkut di tenggorokan” dengan cepat bu Ati meleraikan keduanya agar tidak terjadi lagi pertengkaran di saat menyantap makanan.

Setelah selelsai menyantap makan. Bu Ati mulai membagi tugas bagi masing-masing anak-anaknya.

”Sulung dan Tenga, selesai makan kalian berdua mengambil air di kali nanti ibu yang mencuci piring ditemani oleh Bungsu”

Si Bungsu dengan cepat mengatakan:”Biar saya saja yang mengambil air karena dari tadi saya belum membantu apa-apa”

”Ya sudah kalau kamu maunya begitu” jawab si Sulung sambil tersenyum tipis

”Tumben kamu mau mengangkat air, hati-hati jangan sampai tangan kacilmu itu patah” tambah si Tengah dengan sedikit menghina.

Si sulung yang sedari tadi melihat kerja keras ibunya merasa bertanggung jawab untuk membantu menyelesaikan pekerjaan ibunya. Dan dia merasa telah tiba saatnya membantu ibunya dengan menyelesaikan tugas membersihkan tempat makan dan mencuci piring.

”Ibu istirahat saja! Nanti kita bertiga yang mengerjakan semuanya termasuk mencuci piring”

”Iya bu..itu sudah menjadi tugas kita bertiga” tambah si Tenga

Pekerjaan membersihkan sisa makanan dan mencuci piring telah rampung. Dengan bijaksananya sebagai seorang ibu, bu Ati mengajak ketiga anaknya untuk bersantai di pendopo mungil yang terletak di depan rumah mereka. Sambil mengelus kepala mereka satu persatu, bu Ati mulai membuka fikiran dan menyadarkan anak-anaknya dengan nasehat:

”Kalian bertiga adalah anak ibu yang sangat ibu sayangi, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, ibu ingin melihat kalian bertiga tumbuh saling menyayangi, akur, saling membantu, yang muda harus mendengar apa nasehat dan perintah yang tua, yang tua pun harus sayangi adiknya, saling membantu dan mengisi kekurangan masing-masing kelak akan menjadi orang-orang yang sukses di masa mendatang”.

Setelah menasehati ketiga anaknya, bu Ati teringat akan sebuah legenda yang pernah diceritakan oleh orang tuanya semasa ia kecil dan cerita ini pun yang selalu menjadi pemicu semangatnya dalam menjalani hidup dan mejalin hubungan dengan sesama. Mulailah cerita ini diceritakan olehnya kepada ketiga anaknya.

”Dulu semasa ibu berusia seperti kalian, nenek kalian sering bercerita kepada ibu tentang kisah burung Taong-taong, Kakatua dan Siang-siang. Ketiga burung ini berbeda jenis dan karakter, suka berdebat dan bartengkar namun pada akhirnya ketiga burung ini sadar dan saling membantu di antara mereka”.

”Bagaimana ceritanya bu?” tanya si Tenga

”Buu….ceritakan kisahnya untuk bungsu dong!” pinta si Bungsu

Sementara si Sulung hanya diam siap mendengarkan. Kemudian bu Ati mulai menceritakannya kepada ketiga anaknya.

”Dahulu kala, terdapat tiga ekor burung yang hidup berdampingan dan penuh persaudaraan yaitu burung Taong-taong, Kakatua dan burung Siang-siang. Mereka selalu hidup bersama. Ketiga burung ini mempunyai keunikan dan kelebihan tersendiri. Pada situasi tertentu mereka selalu bercengkramah, tertawa, membangun hidup bersama, namun sering juga terjadi kesalahpahaman diantara mereka bertiga.

Pada setiap burung terdapat kelebihan dan kelemahan atau kekurangan. Burung Taong-taong terlihat lebih besar dari burung Kakatua dan burung Siang-siang sehingga ia dapat menjadi pelindung bagi burung yang lain. Meskipun demikian, burung Taong-taong tidak mampu mengerjakan rumahnya sendiri karena mulutnya yang panjang. Burung Kakatua mempunyai kelebihan karena dikenal sebagai tukang bangunan, di setiap tempat  dan bulu badanya putih seperti salju. Namun, kekurangannya setiap sore selalu berteriak sehingga mengganggu ketentraman orang lain. Sedangkan burung Siang mempunyai kelebihan yaitu setiap siang akan selalu bersuara untuk membangunkan manusia maupun hewan sebangsanya di alam ini.

Pada suatu hari, ketiga ekor burung ini berunding tentang bagaimana mempersiapkan makanan dan fasilitas lainnya.

”Bagaimana jika kita bertiga pergi mencari tempat yang terdapat banyak persediaan makanan, biar hidup sanang, mau makan tinggal mengambilnya saja” usul Kakatua.

”Ayo..! saya juga menginginkan yang demikian” tambah Siang-siang

”Kalian berdua hanya memikirkan masalah perut saja, tidak pernah berfikir bagaimana mempersiapkan tempat tinggal, nanti kalau hujan badai kalian berdua akan berteduh dimana?” bantah Taong-taong

”Kalau begitu kita membagi tugas saja, bagaimana? Jawab Kakatua

”Saya dan Kakatua bertugas mencari makanan, sedangkan taong-taong dengan tubuh yang besar bertugas membangun rumah” tambah Siang-siang

Potong taong-taong dengan cepat ”Enak saja!, kalian berdua berencana meninggalkan aku sendiri yah?”

Dalam dialog tersebut, burung Kakatua dan burung Siang mempunyai maksud yang sama tentang hal mencari makanan untuk kebutuhan sehari-hari sedangkan burung Taong-taong bermaksud mempersiapkan fasilitas lainnya guna menopang kehidupan pada duabelas tahun ke depan. Motivasi dibalik ide burung Taong-taong ini adalah karena burung Taong-taong mencapai tingkat usia dewasa yaitu dua belas tahun.

”Ok. Kalau bagitu kita bertiga pergi mencari tempat yang terdapat banyak bahan makanan kemudian membangun rumah untuk berteduh, bagaimana?” usul Kakatua lagi.

”Ok. Setuju” Jawab yang lain

Dari dialog itu tercapailah kesepakatan untuk pergi mengambil makanan ke suatu tempat, dimana tempat itu kaya akan makanan dan buah-buahan. Merekapun berangkat, setibanya mereka, langkah pertama yang mereka kerjakan adalah membangun rumah masing-masing.

”Yaah…..saya tidak mampu untuk membangun rumah saya sendiri” keluh burung Taong-taong mengharapkan iba dan bantuan dari kedua rekannya.

Timbul perdebatan baru diantara burung Taong-taong, burung Kakatua dan juga burung Siang. Kakatua berkata kepada burung taong-taong.

”Kamu tidak dapat membangun rumah sendiri namun selalu menginginkan rumah untuk berteduh dan rumah yang besar serta bagus sesuai postur tubuhmu”!

”Iya…mentang-mentang berbadan basar lantas berlagak seperti seorang bos, bisanya cuma perintah orang-orang kecil dan lemah” tambah burung Siang.

Burung Taong-taong tidak menerima perkataan burung Kakatua dan burung Siang, maka berkatalah burung Taong-taong kepada kedua burung itu,:

” Kalau kalian berdua masih saja banyak berbicara nanti saya akan menyumbat mulut kalian dan memukul kalian berdua”.

”Biarpun kamu mengancam saya dengan berbagai ancaman tetapi kalau bukan karena saya, lantas siapa lagi yang akan membantu membuat tempat tinggal untukmu?” jawab Kakatua

Burung Siang pun berkata kepada burung Taong-taong bahwa, ”Biarpun kamu mempunyai sejuta rencana jahat terhadap saya tetapi kalau bukan karena saya, lantas siapa lagi yang akan selalu membangunkanmu dan semua manusia di kolong langit ini setiap pagi”.

”Kalian berdua dapat hidup dengan tenang dan aman, itu semua karena ada aku yang selalu melindungi kalian dari ancaman dan bahaya” jawab Taong-taong ketus.

Akhirnya, ketiga burung tersebut saling berdamai kembali karena mereka sadar dan memahami adanya perbedaan dan kekurangan diantara mereka. Keesokan harinya ketiga burung tersebut pergi menyeberangi sebuah danau,

”Ayo bangun, sudah pagi, bersiap-siap karena kita akan segera barangkat” pinta Siang-siang membangunkan Kakatua dan Taong-taong.

”Dasar taong-taong, disuruh bangun pagi saja susah, pasti rezeki hari ini keburu hilang disambar burung-burung yang lain” Tambah Kakatua

”Huuaaachh…..”dengan berat hati dan mata yang masih sedikit rapat, taong-taong pun mencoba bangun dan mempersiapkan diri untuk berangkat.

Selang beberapa saat merekapun berangkat, dan mendapatkan tempat yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar yang sarat dengan buah. Sangking laparnya mereka hinggap pada sebuah pohon yang buahnya sangat lebat dan dengan lahapnya mereka memakan buah-buahan  yang telah matang.

”Buah-buahan ini sangat menggoda seleraku” ujar Kakatua

”Untung kita belum terlambat” tambah Siang-siang kegirangan

”Jangan terlalu banyak komentar, saya sudah sangat lapar dan tidak sabar lagi menyantap habis buah-buahan ini” potong Taong-taong cepat sebelum Siang-siang mengungkit keterlambatan bangunnya.

”Dasar rakus” tambah Siang-siang memancing emosi

”Kalau masih komentar lagi, saya akan menghabisi semua buah-buahan ini dan hanya memberimu kulitnya saja” ancam taong-taong.

”Sudah….lebih baik kita santap bersama buah-buahan ini” ujar kakatua mengakhiri pertengkaran mulut tadi.

Belum sampai seperempat jam mereka menyantap makanan, tiba-tiba burung Taong-taong mengalami musibah, hal ini disebabkan karena kebiasaan burung taong-taong yang selalu memakan makanan tanpa pernah dikunyah terlebih dulu, akibatnya salah satu buah yang dimakannya tersangkut pada leher burung taong-taong, dan membuat burung itu hampir saja mati.

”Auch…augghf…uucgghh” jerit taong-taong kesakitan dan tidak dapat bernafas meminta tolong tanpa bisa difahami oleh kedua rekannya.

”Huh…rasakan tuh sendiri akibatnya, siapa suruh rakus untuk memakan tanpa dikunyah” kesal Kakatua

”Itu akibatnya kalau suka mengancam” jawab Siang sambil menghina

”Khoolo…..kholll” desis Taong-taong sedikit paksa

”Khoolooong…thoolong” teriak Taong-taong meminta bantuan kepada kedua temannya yang sedang mengomel.

Kedua rekannya menyangka bahwa teriakan minta tolong Taong-taong hanya sekedar gurauan, namun teriakan itu semakin lama dan berat terdengar sehingga Kakatua dan Siang merasa kasihan dan iba melihat nasib buruk yang dialami oleh Taong-taong dan segera memberikan pertolongan.

”Capat ambil air di sungai!” perintah Kakatua kepada Siang

Siang-siang dengan cepat dan tangkasnya mengibaskan sayapnya meluncur ke sungai dan mengambil air. Secepat itu pun ia kembali dengan membawa segumpal air.

”Nih airnya” sambil menyodorkan bawaannya kepada Kakatua yang langsung memasukkan air tersebut ke mulut taong-taong.

Nyawa Taong-taong tertolong setelah kedua rekannya memberinya air, dan setelah meminum air tersebut, perlahan burung Taong-taong mulai mencoba menelan air yang dituangkan ke dalam mulutnya dan selang beberapa saat, Taong-taong mengeluarkan suaranya dengan lantang, bersamaan dengan itu buah yang tadi tersedak dalam kerongkongannya masuk ke dalam perut sehingga beban berat tadi terlepas dari diri burung taong-taong. Merasa lega dengan wajah yang pucat-pasi, taong-taong berkata:

”Terima kasih, terima kasih atas bantuan kalian berdua”

”Untung saja ada kita berdua, kalo tidak, kami tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi denganmu” Timpal Siang-siang

”Terima kasih, saya sangat berhutang budi dan nyawa terhadap kalian berdua, mulai saat ini saya tidak akan ribut dan tidak akan pernah bersikap keras atau mengancam kalian berdua lagi, saya berjanji akan menjadi sahabat yang terbaik untuk kalian berdua dan slalu menjaga serta melindungi kalian berdua di setiap saat dan di setiap tempat dari segala ancaman dan marabahaya”

”Nah itu baru namanya sahabat” ujar Kakatua

”Ingat, itu benar-benar janji atau rayuan” tanya siang-siang penuh ragu

”Benar, ini janji sekaligus sumpah setiaku” tegas taong-taong

Mereka pun saling berpelukan, saling meminta maaf, saling menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing dan saling membantu dalam segala urusan baik dalam hal mengerjakan rumah maupun mengumpulkan makanan. Kehidupan ketiga burung ini pun berubah menjadi sebuah keluarga yang damai, pengertian, saling membantu dan mengisi setiap kekurangan yang mereka miliki.

Setelah mendengarkan cerita dari sang ibu, si Tenga dengan rasa keheranan sambil menggeleng-gelengkan kepala berkata;

”Hmm…jika burung saja bisa bersahabat seperti itu, mengapa kita manusia tidak dapat berbuat yang lebih baik dari pada burung”.

”Buu…Bungsu minta maaf, Bungsu berjanji tidak akan berbuat nakal dan malawan kakak-kakak lagi” segera ia memeluk ibunya dan meminta maaf kepada kedua kakaknya.

Diikuti oleh kedua kakaknya yang dengan segara merangkul dan memeluk ibunya serta meminta maaf darinya karena selama ini telah banyak berbuat kesalahan yang sering memberatkan dan membuat sang ibu pusing dalam mengurusi penghidupan keluarga mereka.

Mereka pun berpelukan tanda damai di antara ketiganya. Ibu Ati menjadi senang dan bahagia serta sangat terharu meneteskan air mata melihat sikap dari ketiga anaknya. Harapan dan doa menyertai anak-anaknya untuk selalu bekerja sama dan saling mendukung bukan sekedar ucapan semata melainkan sebagai suatu kesadaran dan janji seperti halnya kisah persahabatan dari ketiga burung tadi.

Dari cerita di atas, menunjukkan atas keberhasilan seorang ibu dalam menasehati anak-anaknya melalalui hikmah-hikmah dan pelajaran-pelajaran sederhana yang dapat dicerna dan dipetik oleh anak-anaknya sesuai dengan kondisi yang ada dan dialami oleh mereka untuk menciptakan suatu keluarga yang harmonis dan bahagia.

TAMAT

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: