MATERI Sy. LULU ASSAGAF

To Speak Without Thinking Is To Shoot Without Aun

PENGARUH TINGKAT INTELEGENSI DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PRESTASI AKADEMIK

Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia peserta didik dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka. Belajar adalah istilah kunci (key term) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Pencapaian individu dari proses belajar disebut dengan prestasi akademik. Individu yang mempunyai prestasi akademik yang tinggi akan mampu bersaing dalam berbagai bidang. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi prestasi akademik seseorang.


Salah satu faktor internal yang dapat mempengaruhi prestasi akademik seseorang adalah intelegensi dan motivasi belajar. Penulisan ini bertujuan untuk menguji apakah ada pengaruh tingkat intekegensi dan motivasi belajar secara parsial maupun bersama terhadap prestasi akademik siswa SMA. Subjek penulisan ini adalah siswa-siswi kelas II SMA Negeri 11 Ambon, sebanyak 180 orang siswa. Alat ukur yang digunakan untuk variabel intelegensi adalah dengan menggunakan tes intelegensi, dimana tes intelegensi yang dipakai dalam penelitian ini adalah tes CFIT (Culture Fair Intelligence Test) skala 3A. Sedangkan alat ukur yang digunakan untuk variabel motivasi belajar adalah skala motivasi belajar yang disusun berdasarkan aspek-aspek motivasi belajar dari Frandsen (dalam Suryabrata, 2006), yang berbentuk skala Likert. Sedangkan untuk variabel prestasi akademik diukur berdasarkan rata-rata nilai rapor siswa pada semester terakhir yang telah dilalui subjek penelitian. Analisis data dilakukan dengan metode penelitian parametrik yaitu teknik analisis regresi berganda. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, diperoleh bahwa secara parsial intelegensi dan motivasi belajar berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi akademik. Hal ini dibuktikan dari t hitung masing-masing sebesar 2,305 dan 3,703, dengan tingkat signifikansi 0,022 dan 0,000. Berdasarkan analisis data, juga diperoleh nilai F sebesar 9,018 dengan tingkat signifikansi 0,000 (p < 0,01). Hal ini berarti bahwa secara bersama intelegensi dan motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi akademik. Selain nilai F, diperoleh juga nilai R square sebesar 0,093, yang berarti bahwa 9,3% prestasi akademik dipengaruhi oleh intelegensi dan motivasi belajar, sedangkan sisanya sebesar 90,7% dipengaruhi oleh faktor lain seperti iklim kelas, dukungan sosial dan lain-lain. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh secara signifikan dari tingkat intelegensi dan motivasi belajar baik secara parsial maupun bersama terhadap prestasi akademik.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia peserta didik dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka. Belajar adalah istilah kunci (key term) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya pendidikan. Belajar juga memainkan peranan penting dalam mempertahankan kehidupan sekelompok umat manusia (bangsa) ditengah-tengah persaingan yang ketat di antara bangsa-bangsa lainnya yang terlebih dahulu maju karena belajar (Syah, 2006).

Menghadapi era globalisasi sekarang ini, diperlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan ini terlebih dahulu dapat dilakukan dengan peningkatan mutu pendidikan nasional pada umumnya dan peningkatan prestasi akademik siswa pada khususnya.

Prestasi akademik menurut Bloom (dalam Azwar, 2002) adalah mengungkap keberhasilan seseorang dalam belajar. Menurut Azwar (2004) secara umum, ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi akademik seseorang, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi antara lain faktor fisik dan faktor psikologis.

Faktor fisik berhubungan dengan kondisi fisik umum seperti penglihatan dan pendengaran. Faktor psikologis menyangkut faktor-faktor non fisik, seperti minat, motivasi, bakat, intelegensi, sikap dan kesehatan mental. Faktor eksternal meliputi faktor fisik dan faktor sosial. Faktor fisik menyangkut kondisi tempat belajar, sarana dan perlengkapan belajar, materi pelajaran dan kondisi lingkungan belajar. Faktor social menyangkut dukungan sosial dan pengaruh budaya.

Dalam dunia pendidikan formal, pentingnya pengukuran prestasi akademik tidaklah dapat disangsikan lagi. Sebagaimana diketahui, proses pendidikan formal adalah suatu proses yang kompleks yang memerlukan waktu, dana dan usaha serta kerjasama berbagai pihak. Berbagai aspek dan faktor terlibat dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Tidak ada pendidikan yang secara sendirinya berhasil mencapai tujuan yang digariskan tanpa interaksi berbagai faktor pendukung yang ada dalam sistem pendidikan tersebut. Betapa jelasnya pun suatu tujuan pendidikan telah digariskan, tanpa usaha pengukuran maka akan mustahil hasilnya dapat diketahui. Tidaklah layak untuk menyatakan adanya suatu kemajuan atau keberhasilan program pendidikan tanpa memberikan bukti peningkatan atau pencapaian yang diperoleh. Bukti peningkatan atau pencapaian inilah yang harus diambil dari pengukuran prestasi secara terencana.

Intelegensi menurut Azwar (2004) merupakan salah satu faktor internal yang mempengaruhi prestasi akademik seseorang. Intelegensi sendiri dalam perspektif psikologi memiliki arti yangberaneka ragam. Salah satu yang paling pokok yaitu menurut Chaplin (dalam Syah, 2006) adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi baru secara cepat dan efektif atau kemampuan menggunakan konsep-konsep abstrak secara efektif. Begitu banyak definisi tentang intelegensi yang dikemukakan oleh para ahli. Definisi intelegensi itu mengalami berbagai perubahan dari waktu ke waktu, tetapi sejak dahulu tidak pernah mengurangi penekanan pada aspek kognitifnya.

Salah satu cara yang sering digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya tingkat intelegensi adalah menerjemahkan hasil tes intelegensi ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relatif terhadap suatu norma. Secara tradisional, angka normatif dari hasil tes intelegensi dinyatakan dalam bentuk rasio (quotient) dan dinamai intelligence quotient(IQ). (Azwar, 2004).

Intelegensi sebagai unsur kognitif dianggap memegang peranan yang cukup penting. Bahkan kadang-kadang timbul anggapan yang menempatkan intelegensi dalam peranan yang melebihi proporsi yang sebenarnya. Sebagian orang bahkan menganggap bahwa hasil tes intelegensi yang tinggi merupakan jaminan kesuksesan dalam belajar sehingga bila terjadi kasus kegagalan belajar pada anak yang memiliki IQ tinggi akan menimbulkan reaksi berlebihan berupa kehilangan kepercayaan pada institusi yang menggagalkan anak tersebut atau kehilangan kepercayaan pada pihak yang telah memberi diagnosa IQ-nya.

Sejalan dengan itu, tidak kurang berbahayanya adalah anggapan bahwa hasil tes IQ yang rendah merupakan vonis akhir bahwa individu yang bersangkutan tidak mungkin dapat mencapai prestasi yang baik. Menurut Azwar (2004) hal ini tidak saja merendahkan self-esteem (harga diri)

seseorang akan tetapi dapat menghancurkan pula motivasinya untuk belajar yang justru menjadi awal dari segala kegagalan yang tidak seharusnya terjadi.

Menurut Slameto (1995) seringkali anak didik yang tergolong cerdas tampak bodoh karena tidak

memiliki motivasi untuk mencapai prestasi sebaik mungkin. Hal ini menunjukkan seorang anak didik yang cerdas, apabila memiliki motivasi belajar yang rendah maka dia tidak akan mencapai prestasi akademik yang baik. Sebaliknya, seorang anak didik yang kurang cerdas, tetapi memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar, maka dia akan mencapai prestasi akademik yang baik.

Menurut Hamalik (dalam Djamarah, 2002) motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dengan kata lain, seseorang mempunyai tujuan tertentu dari segala aktivitasnya. Demikian juga dalam proses belajar, seseorang yang tidak mempunyai motivasi belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar dan prestasi akademiknya pun akan rendah. Sebaliknya, seseorang yang mempunyai motivasi belajar, akan dengan baik melakukan aktivitas belajar dan memiliki prestasi akademik yang lebih baik.

Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah apakah ada pengaruh tingkat intelegensi dan motivasi belajar terhadap prestasi akademik pada siswa SMA?

1.2 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan ini antara lain:

1. Untuk menguji mengetahui tingkat intelegensi terhadap prestasi akademik pada siswa SMA

2. Untuk mengetahui pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi akademik pada siswa SMA

3. Untuk mengetahui pengaruh tingkat intelegensi dan motivasi belajar terhadap prestasi akademik pada siswa SMA

 

1.3 Manfaat Penulisan

1.3.1 Manfaat Teoritis

Diharapkan hasil penulisan ini dapat digunakan untuk pengembangan ilmu psikologi, khususnya dalam psikologi pendidikan dan psikologi belajar, serta dapat digunakan sebagai acuan untuk penulisan-penulisan tentang intelegensi, motivasi belajar dan prestasi akademik selanjutnya.

1.3.2 Manfaat Praktis

Diharapkan penulisan ini dapat dimanfaatkan oleh para pendidik (guru) dan dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan di lembaga pendidikan untuk merumuskan kebijakan yang menyangkut upaya peningkatan prestasi akademik siswa SMA Negeri 11 Ambon pada khususnya dan kualitas pendidikan pada umumnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Prestasi Akademik

Djamarah (2002) mendefinisikan prestasi akademik adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil akhir dari aktivitas belajar. Sedangkan definisi prestasi akademik menurut Azwar (2002) adalah bukti peningkatan atau pencapaian yang diperoleh seorang siswa sebagai pernyataan ada tidaknya kemajuan atau keberhasilan dalam program pendidikan.

Selanjutnya menurut Suryabrata (2006) prestasi akademik adalah hasil belajar terakhir yang dicapai oleh siswa dalam jangka waktu tertentu, yang mana di sekolah prestasi akademik siswa biasanya dinyatakan dalam bentuk angka atau simbol tertentu. Kemudian dengan angka atau simbol tersebut, orang lain atau siswa sendiri akan dapat mengetahui sejauhmana prestasi akademik yang telah dicapai. Dengan demikian, prestasi akademik di sekolah merupakan bentuk

lain dari besarnya penguasaan bahan pelajaran yang telah dicapai siswa, dan rapor bisa dijadikan hasil belajar terakhir dari penguasaan pelajaran tersebut.

Berdasarkan uraian dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa prestasi akademik adalah hasil atau pencapaian yang diperoleh siswa dari aktivitas belajar, yang dinyatakan dalam bentuk angka atau simbol tertentu.

Menurut Ahmadi dan Supriyono (2004), faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik antara lain:

a. Faktor internal

1)Faktor jasmaniah (fisiologi), yang termasuk faktor ini misalnya penglihatan, pendengaran, struktur tubuh.

2)Faktor psikologis, terdiri atas:

1.  Faktor intelektif yang meliputi:

(1) Faktor potensial yaitu kecerdasan dan bakat.

(2) Faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang telah dimiliki.

2. Faktor non-intelektif, yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi, penyesuaian diri

3. Faktor kematangan fisik maupun psikis.

4. Faktor lingkungan spiritual atau keamanan.

b. Faktor eksternal

1)Faktor sosial yang terdiri atas:

a) Lingkungan keluarga

b) Lingkungan sekolah

c) Lingkungan masyarakat

d) Lingkungan kelompok

2)Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian.

3)Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar, iklim.

Berdasarkan uraian diatas, maka penelitian ini akan meneliti pengaruh faktor-faktor intelegensi atau kecerdasan dan motivasi terhadap prestasi akademik pada siswa SMA. Pengertian prestasi atau keberhasilan belajar dapat dioperasionalkan dalam bentuk indikatorindikator berupa nilai rapor, indeksprestasi studi, angka kelulusan, predikat keberhasilan, dan semacamnya (Azwar, 2004).

2.2. Intelegensi

Definisi intelegensi menurut Reber (1985) adalah kemampuan psikofisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat. Sedangkan intelegensi menurut David Wechsler (dalam Azwar, 2004) adalah kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berfikir secara rasional serta menghadapi lingkungannya dengan efektif.

Menurut Purwanto (1990), intelegensi adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara yang tertentu.

Berdasarkan uraian dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa intelegensi adalah kemampuan umum seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berfikir secara rasional, dan menyesuaikan diri dengan cara yang tepat.

Menurut Bayley (dalam Slameto, 1995) ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan intelektual individu, yaitu:

a. Keturunan

Studi korelasi nilai-nilai tes intelegensi diantara anak dan orang tua, atau dengan kakek-neneknya, menunjukkan adanya pengaruh faktor keturunan terhadap tingkat kemampuan mental seseorang sampai pada tingkat tertentu.

b. Latar belakang sosial ekonomi

Pendapatan keluarga, pekerjaan orang tua dan faktor-faktor social ekonomi lainnya, berkorelasi positif dan cukup tinggi dengan taraf kecerdasan individu mulai usia 3 tahun sampai dengan remaja.

c. Lingkungan hidup

Lingkungan yang kurang baik akan menghasilkan kemampuan intelektual yang kurang baik pula. Lingkungan yang di nilai paling buruk bagi perkembangan intelegensi adalah panti-panti asuhan serta institusi lainnya, terutama bila anak ditempatkan disana sejak awal kehidupannya.

d. Kondisi fisik

Keadaan gizi yang kurang baik, kesehatan yang buruk, perkembangan fisik yang lambat, menyebabkan tingkat kemampuan mental yang rendah.

e. Iklim emosi

Iklim emosi dimana individu dibesarkan mempengaruhi perkembangan mental individu yang bersangkutan.

2.3. Teori Intelegensi

Azwar (2004) menguraikan secara ringkas mengenai teori-teori intelegensi, antara lain:

a. Alfred Binet

Alfred Binet termasuk salah satu ahli psikologi yang mengatakan bahwa intelegensi bersifat monogenetik, yaitu berkembang dari satu faktor satuan atau faktor umum.

Menurut Binet, intelegensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang. Binet menggambarkan intelegensi sebagai sesuatu yang fungsional sehingga memungkinkan orang lain untuk mengamati dan menilai tingkat perkembangan individu berdasar suatu criteria tertentu. Jadi untuk melihat apakah seseorang cukup intelegen atau tidak, dapat diamati dari cara dan kemampuannya untuk melakukan suatu tindakan dan kemampuannya untuk mengubah arah tindakannya itu apabila perlu. Inilah yang dimaksud dengan komponen arah, adaptasi dan kritik dalam definisi intelegensi.

b. Thurstone (dalam Heru Basuki, 2005)

Thurstone berpendapat bahwa intelegensi terdiri dari faktor yang jamak (multiple factors), mencakup tujuh kemampuan mental utama (primary mental abilities), yaitu:

1)Pemahaman verbal (verbal comprehension)

Kemampuan ini biasanya diukur melalui tes-tes kosakata, termasuk sinonim dan lawan kata, dan testes kemampuan menyimak bacaan.

2)Kecepatan verbal (verbal fluency)

Kemampuan ini biasanya diukur melalui tes-tes yang menuntut menghasilkan kata-kata secara cepat dan tepat, misalnya dalam waktu yang singkat mampu menghasilkan sebanyak mungkin kata yang berawal dengan huruf d.

3) Bilangan (number)

Kemampuan ini biasanya diukur melalui pemecahan masalahmasalah aritmatika. Dalam tes ini sangat ditekankan tidak hanya masalah-masalah perhitungan dan pemikiran, tetapi juga penguasaan atau pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.

4)Visualisasi spasial (spatial visualization)

Kemampuan ini biasanya diukur dengan tes-tes yang menuntut manipulasi mental atas simbolsimbol atau bangun-bangun geometris.

5) Ingatan (memory)

Kemampuan ini biasanya diukur melalui tes mengingat kembali kata-kata atau kalimat yang dihafal dari gambar-gambar yang disertai keterangan gambar (katakata)

6) Pemikiran (reasoning)

Kemampuan ini biasanya diukur melalui te-tes analogi-analogi (misalnya: pengacara, klien, dokter, …, dan lain-lain), atau rangkaian huruf atau angka untuk diselesaikan (2, 4, 7, 11, …, …, …, …)

7) Kecepatan persepsi (perceptual speed)

Kemampuan ini biasanya diukur melalui tes-tes yang menuntut pengenalan simbol secara cepat, misalnya kecepatan menyilang atau memberi tanda pada huruf f yang terdapat dalam deretan huruf-huruf.

c. Raymond Bernard Cattell

Dalam teorinya mengenai organisasi mental, Cattell mengklasifikasikan kemampuan menjadi dua macam, yaitu:

1) Intelegensi Fluid (gf), yang merupakan faktor bawaan biologis.

Sangat penting artinya untuk melakukan tugas yang menuntut kemampuan adaptasi pada situasisituasi baru. Intelegensi fluid cenderung tidak berubah setelah usia 14 atau 15 tahun.

2) Intelegensi Crystallized (gc), yang merefleksikan adanya pengaruh pengalaman, pendidikan dan kebudayaan dalam diri seseorang atau dengan kata lain merupakan endapan pengalaman yang terjadi sewaktu intelegensi fluid bercampur dengan pengalaman. Intelegensi crystallized ini akan meningkat kadarnya seiring dengan meningkatnya pengalaman dan masih terus dapat berkembang sampai usia 30 sampai 40 tahun.

Penulisan ini menggunakan CFIT (Culture Fair Intelligence Test) skala 3A untuk mengukur tingkat intelegensi pada siswa SMA karena CFIT adalah tes yang bebas pengaruh budaya (culture free) dan dapat digunakan untuk mengukur kemampuan umum seseorang.

 

2.4. Motivasi Belajar

Motivasi belajar menurut Wlodkowski dan Jaynes (2004) adalah merupakan sebuah nilai dan hasrat untuk belajar. Sedangkan menurut Sardiman (2004), motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai.

Definisi motivasi belajar menurut Uno (2007) adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung.

Berdasarkan uraian dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak yang menjadi kekuatan pada individu yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan seluruh tingkah laku sehingga diharapkan tujuan belajar dapat tercapai.

Terdapat dua macam motivasi menurut Djamarah (2002), yaitu:

a. Motivasi Intrinsik

Motivasi intrinsik adalah motifmotif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.

b. Motivasi Ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motifmotif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Motivasi belajar dikatakan ekstrinsik bila anak didik menempatkan tujuan belajarnya di luar faktor-faktor situasi belajar. Anak didik belajar karena hendak mencapai tujuan yang terletak di luar hal yang dipelajarinya. Misalnya, untuk mencapai angka tinggi, diploma, gelar, kehormatan dan sebagainya.

Aspek-aspek Motivasi Belajar Menurut Frandsen (dalam Suryabrata, 2006), ada beberapa aspek yang memotivasi belajar seseorang, yaitu:

a. Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas.

Sifat ingin tahu mendorong seseorang untuk belajar, sehingga setelah mereka mengetahui segala hal yang sebelumnya tidak diketahui maka akan menimbulkan kepuasan tersendiri pada dirinya.

b. Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk selalu maju.

Manusia terus menerus menciptakan sesuatu yang baru karena adanya dorongan untuk lebih maju dan lebih baik dalam kehidupannya.

c. Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru dan teman-teman.

Jika seseorang mendapatkan hasil yang baik dalam belajar, maka orang-orang disekelilingnya akan memberikan penghargaan berupa pujian, hadiah dan bentuk-bentuk rasa simpati yang lain.

d. Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan kooperasi maupun dengan kompetisi. Suatu kegagalan dapat menjadikan seseorang merasa kecewa dan depresi atau sebaliknya dapa menimbulkan motivasi baru agar berusaha lebih baik lagi. Usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik tersebut dapat diwujudkan dengan kerjasama bersama orang lain (kooperasi), ataupun bersaing dengan orang lain (kompetisi).

e. Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran.

Apabila seseorang menguasai pelajaran dengan baik, maka orang tersebut tidak akan merasa khawatir bila menghadapi ujian, pertanyaanpertanyaan dari guru dan lain-lain karena merasa yakin akan dapat menghadapinya dengan baik. Hal inilah yang menimbulkan rasa aman pada individu.

f. Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir daripada belajar.

Suatu perbuatan yang dilakukan dengan baik pasti akan mendapatkan ganjaran yang baik, dan sebaliknya, bila dilakukan kurang sungguhsungguh maka hasilnya pun kurang baik bahkan mungkin berupa hukuman.

Dalam penulisan ini, penulis akan menggunakan aspek motivasi belajar menurut Frandsen sebagai alat ukur motivasi belajar, sebab lebih mudah mengukur tinggi rendahnya motivasi belajar seseorang.

 

2.5. Pengaruh Tingkat Intelegensi Dan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi akademik Siswa

Prestasi akademik menurut Suryabrata (2006) adalah hasil belajar terakhir yang dicapai oleh siswa dalam jangka waktu tertentu, yang mana disekolah prestasi akademik siswa biasanya dinyatakan dalam bentuk angka atau simbol tertentu. Kemudian dengan angka atau simbol tersebut, orang lain atau siswa sendiri akan dapat mengetahui sejauhmana prestasi akademik yang telah dicapai. Dengan demikian, prestasi akademik disekolah merupakan bentuk lain dari besarnya penguasaan bahan pelajaran yang telah dicapai siswa, dan rapor bisa dijadikan hasil belajar terakhir dari penguasaan pelajaran tersebut.

Seseorang tidak dapat memiliki prestasi akademik begitu saja tanpa ada hal yang mendorongnya untuk menunjukkan hasil belajar yang memuaskan. Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi akademik seseorang, Azwar (2004) secara umum menjelaskan ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi akademik seseorang, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi antara lain faktor fisik dan faktor psikologis.

Faktor fisik berhubungan dengan kondisi fisik umum seperti penglihatan dan pendengaran. Faktor psikologis menyangkut faktor-faktor non fisik, seperti minat, motivasi, bakat, intelegensi, sikap dan kesehatan mental. Faktor eksternal meliputi faktor fisik dan faktor sosial. Faktor fisik menyangkut kondisi tempat belajar, sarana dan perlengkapan belajar, materi pelajaran dan kondisi lingkungan belajar. Faktor social menyangkut dukungan sosial dan pengaruh budaya.

Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi akademik seseorang adalah tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ). Menurut Syah (2006) tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) siswa sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini bermakna, semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa, maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses, dan sebaliknya semakin rendah kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh sukses. Hal yang sama juga diungkap oleh Ekowati (2006) yang menyatakan bahwa terdapat kontribusi positif antara intelegensi (kecerdasan) terhadap hasil belajar siswa. David Wechsler (dalam Azwar, 2004) mendefinisikan intelegensi adalah kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berfikir secara rasional serta menghadapi lingkungannya dengan efektif, dari definisi tersebut nampak adanya pengaruh yang signifikan antara intelegensi terhadap prestasi akademik. Salah satu faktor lain yang mempengaruhi prestasi akademik seseorang adalah motivasi belajarnya.

Dari berbagai hasil penelitian selalu menyimpulkan bahwa motivasi mempengaruhi prestasi akademik seseorang. Tinggi rendahnya motivasi selalu dijadikan indikator baik buruknya prestasi akademik seorang anak didik. Hal ini juga didukung oleh penelitian Purnomowati (2006) yang memperoleh thitung untuk variabel motivasi belajar sebesar 4,951 dengan signifikansi 0,000 < 0,05, yang berarti bahwa variable motivasi belajar berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi akademik siswa. Definisi motivasi belajar menurut Djamarah (2002) adalah suatu perubahan tingkah laku dalam diri seseorang yang menimbulkan proses belajar individu yang berinteraksi langsung dengan objek belajar. Dari penjelasan tersebut, Nampak pula adanya pengaruh yang signifikan antara motivasi belajar seseorang terhadap prestasi akademik seseorang, oleh sebab itu maka upaya peningkatan prestasi akademik seseorang tidak bisa lepas dari upaya peningkatan motivasi belajarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh tingkat intelegensi dan motivasi belajar secara parsial maupun bersama terhadap prestasi akademik. Hasil penulisan ini menunjukkan bahwa ketiga ini diterima, artinya ada pengaruh secara signifikan dari tingkat intelegensi dan motivasi belajar baik secara parsial maupun bersama terhadap prestasi akademik.

Penulisan ini menunjukkan bahwa intelegensi berpengaruh signifikan terhadap prestasi akademik. Hal ini sesuai dengan pendapat Dalyono (1997) yang mengatakan bahwa seseorang yang memiliki intelegensi baik (IQ-nya tinggi) umumnya mudah belajar dan hasilnya pun cenderung baik. Sebaliknya orang yang intelegensinya rendah cenderung mengalami kesukaran dalam belajar, lambat berpikir, sehingga prestasi akademiknya pun rendah. Hal ini juga sesuai dengan penelitian Malik (2002) yang memperoleh kontribusi intelegensi terhadap prestasi akademik sebesar 8% pada 83 orang siswa kelas I dan II SMUN 11 Ambon yang berpartisipasi dalam kegiatan KIR.

Dari hasil analisis data yang dilakukan, diperoleh koefisien regresi dari intelegensi sebesar 0,025 dan motivasi belajar sebesar 0,080. Hal ini menunjukkan apabila salah satu variable dalam keadaan konstan, maka motivasi belajar akan berpengaruh lebih besar pada prestasi akademik seseorang.

Motivasi belajar menurut Uno (2007) adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku. Motivasi belajar menurut Djamarah (2002) ada dua macam, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.

Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Kuat lemahnya motivasi belajar akan turut mempengaruhi keberhasilan belajar seseorang. Menurut Syah (2006) motivasi yang lebih signifikan bagi siswa adalah motivasi intrinsik karena lebih murni dan langgeng serta tidak bergantung pada dorongan atau pengaruh dari orang lain. Oleh karena itu, motivasi belajar yang perlu diusahakan, terutama adalah yang berasal dari dalam diri (motivasi intrinsik) dengan cara senantiasa memikirkan masa depan yang penuh tantangan, adanya dorongan untuk memiliki pengetahuan dan lain-lain.

Berdasarkan analisis data, juga diperoleh nilai F sebesar 9,018 dengan tingkat signifikansi 0,000 (p < 0,01). Hal ini berarti bahwa intelegensi dan motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi akademik. Selain nilai F, diperoleh juga nilai R square sebesar 0,093, yang berarti bahwa 9,3% prestasi akademik dipengaruhi oleh intelegensi dan motivasi belajar, sedangkan sisanya sebesar 90,7% dipengaruhi oleh faktor lainnya yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.

Hal ini sesuai dengan pendapat Azwar (2004) yang menyebutkan secara umum, ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi akademik seseorang, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi antara lain faktor fisik dan faktor psikologis. Faktor fisik berhubungan dengan kondisi fisik umum seperti penglihatan dan pendengaran. Faktor psikologis menyangkut faktor-faktor non fisik, seperti minat, motivasi, bakat, intelegensi, sikap dan kesehatan mental. Faktor eksternal meliputi faktor fisik dan faktor sosial. Faktor fisik menyangkut kondisi tempat belajar, sarana dan perlengkapan belajar, materi pelajaran dan kondisi lingkungan belajar. Faktor social menyangkut dukungan sosial dan pengaruh budaya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik dalam banyak hal sering saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Seorang siswa yang bersikap conservingterhadap ilmu pengetahuan atau bermotif ekstrinsik (faktor eksternal) umpamanya, biasanya cenderung mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan tidak mendalam. Sebaliknya, seorang siswa yang berintelegensi tinggi (faktor internal) dan mendapat dorongan positif dari orang tuanya (faktor eksternal), mungkin akan memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil belajar. Jadi, karena pengaruh faktor-faktor tersebut, muncul siswa-siswa yang berprestasi tingi dan berprestasi rendah atau gagal sama sekali.

Dalam hal ini, seorang guru yang kompeten dan profesional diharapkan mampu mengantisipasi kemungkinankemungkinan munculnya kelompok siswa yang menunjukkan gejala kegagalan dengan berusaha mengetahui dan mengatasi faktor yang menghambat proses belajar mereka. Hal ini juga didukung penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi prestasi akademik.

Seperti yang diungkap oleh Tarmidi (2006) yang mengatakan bahwa iklim kelas berkorelasi positif dengan perubahan tingkah laku dan prestasi hasil pembelajaran siswa. Dengan kata lain, iklim kelas merupakan salah satu cara untuk meningkatkan efektifitas dan kualitas pembelajaran di kelas. Iklim kelas merupakan faktor ekternal yang dapat mempengaruhi prestasi akademik siswa. Iklim kelas sendiri meliputi ruangan kelas, lingkungan kelas dan lainlain.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa intelegensi dan motivasi belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi akademik seseorang. Hasil penelitian ini juga menunjukkan subjek dalam penelitian ini memiliki tingkat intelegensi yang tergolong average (ratarata) dan memiliki motivasi belajar yang tergolong rata-rata bahkan mendekati tinggi. Selain itu, juga diketahui bahwa motivasi belajar memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap prestasi akademik pada siswa-siswi SMA Negeri 11 Ambon. Jadi, upaya untuk meningkatkan prestasi akademik pada siswa-siswi SMA Negeri 11 Ambon dapat dilakukan dengan memberikan fokus lebih terhadap motivasi belajarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Penulisan ini menunjukkan bahwa ketiga hipotesis ini diterima, artinya ada pengaruh secara signifikan dari tingkat intelegensi dan motivasi belajar baik secara parsial maupun bersama terhadap prestasi akademik.

Berdasarkan paparan di atas, diperoleh bahwa secara parsial intelegensi dan motivasi belajar berpengaruh sangat nyata terhadap prestasi akademik. Hal ini dibuktikan dari t hitung masing-masing sebesar 2,305 dan 3,703, dengan tingkat signifikansi 0,022 dan 0,000.

Dari hasil analisis data yang dilakukan, diperoleh koefisien regresi dari intelegensi sebesar 0,025 dan motivasi belajar sebesar 0,080. Hal ini menunjukkan apabila salah satu variable dalam keadaan konstan, maka motivasi belajar akan berpengaruh lebih besar pada prestasi akademik seseorang.

Hasil analisis data juga menunjukan nilai standardized sebesar 0,266 untuk motivasi belajar. Hal ini berarti bahwa motivasi belajar memberikan kontribusi sebesar 26,6% terhadap prestasi akademik. Sedangkan nilai standardized untuk intelegensi sebesar 0,166, yang berarti bahwa intelegensi memberikan kontribusi sebesar 16,6% terhadap prestasi akademik.

Berdasarkan analisis data, juga diperoleh nilai F sebesar 9,018 dengan tingkat signifikansi 0,000 (p < 0,01). Hal ini berarti bahwa intelegensi dan motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi akademik. Selain nilai F, diperoleh juga nilai R square sebesar 0,093, yang berarti bahwa 9,3% prestasi akademik dipengaruhi oleh intelegensi dan motivasi belajar, sedangkan sisanya sebesar 90,7% dipengaruhi oleh faktor lainnya yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.

4.2. Saran

Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan di atas, maka saran yang dapat dianjurkan adalah sebagai berikut :

1. Bagi Siswa-siswi SMA Negeri 11 Ambon

Melihat motivasi belajar memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap prestasi akademik, disarankan kepada siswa-siswi untuk lebih meningkatkan motivasi belajarnya melalui berbagai cara, antara lain menyukai tiap mata pelajaran yang disajikan, memiliki keinginan untuk memperoleh pengetahuan dan lain-lain.

2. Bagi Sekolah dan Guru

Berdasarkan penulisan ini, diketahui bahwa motivasi belajar memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap prestasi akademik, untuk itu fokus terhadap peningkatan motivasi belajar siswa merupakan usaha yang paling sesuai untuk meningkatkan dan atau mempertahankan prestasi akademik siswa di SMA Negeri 11 Ambon.

3. Bagi penulisan dan Penelitian Selanjutnya

a. Dari hasil penelitian diketahui bahwa terdapat faktor-faktor lain yang menentukan prestasi akademik seseorang, seperti penglihatan, pendengaran, minat, bakat, sikap, kesehatan mental, kondisi tempat belajar, sarana dan perlengkapan belajar, materi pelajaran, kondisi lingkungan belajar, dukungan sosial serta pengaruh budaya. Dengan demikian dinilai perlu untuk disarankan kepada penelitian selanjutnya untuk meneliti faktorfaktor lain yang mempengaruhi prestasi akademik.

b. Penelitian ini menggunakan teknik analisi regresi berganda untuk meneliti dua faktor yang mempengaruhi prestasi akademik  seseorang. Disarankan untuk penelitian selanjutnya untuk meneliti lebih dari dua fakor yang mempengruhi prestasi belajar sehingga akan bisa dilihat besarnya pengaruh faktor-faktor lain pada prestasi akademik seseorang.

c. Penelitian ini menggunakan subjek penelitian dari SMA Negeri 11 Ambon, yang termasuk salah satu sekolah unggulan di Jakarta, sehingga intelegensi dan motivasi belajar siswanya terkontrol. Disarankan bagi penelitian selanjutnya untuk meneliti sekolah atau kelompok subjek yang umum.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmadi, A., & Supriyono, W. (2004). Psikologi belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Azwar, S. (2002). Tes prestasi: Fungsi pengembangan pengukuran prestasi belajar. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

Azwar, S. (2004). Pengantar psikologi intelegensi. Yogyakarta: PustakaPelajar.

Cattel & Cattel. (2006). Manual CFIT Skala 3A/B. Urusan Reproduksidan Distribusi Alat Tes Psikologi(URDAT) Fakultas PsikologiUniversitas Indonesia

Dalyono, M. (1997). Psikologi pendidikan. Jakarta: PT RinekaCipta.

Djamarah, S.B. (2002). Psikologi belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Ekowati. (2006). Kontribusi intelegensi dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar pendidikan kewarganegaraan dan sejarah. Samarinda, Kalimantan Timur.http://www.geocities.com/guruvalah/ hasil-belajar.pdf

Heru Basuki, A.M. (2005). Kreativitas, keberbakatan intelektual dan faktor-faktor pendukung dalam pengembangannya. Jakarta:Gunadarma.

Malik, L.R. (2002). Sumbangan intelegensi, motivasi berprestasi dan partisipasi siswa dalam kelompok ilmiah remaja terhadap prestasi belajar siswa remaja (Penelitian pada siswa SMUN di wilayah Jakarta Timur). Tesis (tidak diterbitkan). Depok:Fakultas Psikologi UniversitasIndonesia.

Purnomowati, R. (2006). Pengaruh disiplin dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa

kelas X SMK Teuku Umar Semarang tahun ajaran 2005/2006. Semarang: JurusanAkuntansi Fakultas EkonomiUniversitas Negeri Semarang.http://digilib.unnes.ac.id/

Purwanto, N. (1990). Psikologi pendidikan. Bandung: PT RemajaRosdakarya.

Reber, A.S. (1985). The penguin dictionary of psychological.Harmondsworth MiddlesexEngland: Penguin Books Ltd.

Sardiman, A.M. (2004). Interaksi dan motivasi belajar mengajar.Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Slameto. (1995). Belajar dan faktorfaktor yang mempengaruhinya.Jakarta: PT Rineka Cipta.Suryabrata,

S. (2006). Psikologi pendidikan. Jakarta: PTRajaGrafindo Persada.

Syah, M. (2006). Psikologi belajar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Tanty, E.L. (2004). Hubungan antara motivasi belajar dan persepsi tentang dukungan orang tua dengan prestasi akademis pada siswa penyandang tunarungu. Tesis (tidak diterbitkan). Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Tarmidi. (2006). Iklim kelas dan prestasi belajar. Medan: FakultasKedokteran Universitas SumateraUtara.http://library.usu.ac.id/download/fk/ 06010310.pdf

Uno, H.B. (2007). Teori motivasi dan pengukurannya: Analisis dibidang pendidikan. Jakarta: PTBumi Aksara.

Wlodkowski, R.J., & Jaynes, J.H. (2004). Motivasi belajar. Jakarta: Cerdas Pustaka.

Yusdiana. (2002). Hubungan antara sikap siswa, sikap orang tua (ibu) penilaian siswa terhadap kompetensi guru pada matapelajaran bahasa arab dan motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Arab. Tesis (tidak diterbitkan). Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

About these ads

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: